Jika Tarif Ojol Naik Drastis, Begini Dampaknya


JAKARTA (DP) – Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) memperkirakan, rencana pemerintah menaikkan tarif ojek online (ojol) akan memiliki dampak negatif, tak hanya bagi konsumen sebagai pengguna layanan, tapi juga bagi pengemudi sistem transportasi tersebut.

Dampak yang paling nyata adalah permintaan konsumen akan turun dengan drastis sehingga menurunkan pendapatan pengemudi ojol. Bahkan hal itu dapat meningkatkan frekuensi masyarakat menggunakan kendaraan pribadi dalam beraktivitas sehari-hari, sehingga dapat menambah kemacetan.

“Hal itu berdasarkan hasil survei terhadap konsumen ojol yang kami lakukan dengan melibatkan sebanyak 2.001 konsumen pengguna ojol di 10 provinsi. Kenaikan tarif ojek online berpotensi menurunkan permintaan konsumen hingga 71,12%,” kata Ketua Tim Peneliti RISED, Rumayya Batubara, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (13/2).

Hasil survei menyebutkan, 45,83% responden menyatakan tarif ojol yang ada saat ini sudah sesuai. Bahkan 28% responden lainnya mengaku bahwa tarif ojol saat ini sudah mahal dan sangat mahal.

Baca juga:  'Teman Mudik 2018', Planet Ban Siap Diandalkan

Jika memang ada kenaikan, sebanyak 48,13% responden hanya mau mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp5.000/hari. Ada juga sebanyak 23% responden yang tidak ingin mengeluarkan biaya tambahan sama sekali.

Dari hasil survei yang dilakukan RISED itu juga diketahui bahwa jarak tempuh rata-rata konsumen adalah 8,8 km/hari. Dengan jarak tempuh sejauh itu, apabila terjadi kenaikan tarif dari Rp2.200/km menjadi Rp3.100/km (atau sebesar Rp900/km), maka pengeluaran konsumen akan bertambah sebesar Rp7.920/hari.

“Bertambahnya pengeluaran sebesar itu akan ditolak oleh kelompok konsumen yang tidak mau mengeluarkan biaya tambahan sama sekali. Konsumen ingin mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp5.000/hari. Total persentasenya mencapai 71,12%,” papar Rumayya.

Sedangkan Mantan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Zumrotin K. Susilo, menilai tarif memang selalu menjadi pertimbangan penting konsumen dalam menggunakan layanan atau produk. Itu terlihat dari hasil survei yang dilakukan RISED bahwa 64% responden mengaku menggunakan aplikasi dari dua perusahaan aplikasi ojek online.

Baca juga:  Konsumen Bawa Pulang Avanza di Program Gebyar 20 Tahun BAF

“Persentase ini menunjukkan layanan ojol amat sensitif dengan harga yang ditawarkan,” ujar Zumrotin.

Oleh karena itu, menurut Zumrotin, kebijakan yang mempengaruhi harga sebaiknya dilakukan secara hati-hati sehingga tidak mengganggu stabilitas pasar secara menyeluruh.

“Seluruh pemangku kepentingan harus diperhitungkan dalam proses perumusan regulasi, karena konsumen yang akan terdampak secara signifikan,” tuturnya.

Apalagi saat ini konsumen telah merasakan nyamannya menggunakan layanan ojol. Seperti tergambar dari hasil survei bahwa 75% responden lebih nyaman menggunakan ojol dibandingkan moda transportasi lainnya.

Sebesar 83% responden juga menyatakan bahwa ojol lebih unggul dikarenakan faktor kemudahan dalam bermobilitas, waktu yang fleksibel, dan layanan door-to-door.

Berdasarkan hasil survei juga terlihat bahwa masyarakat menggunakan ojol dominan untuk pergi ke sekolah, kuliah, dan kantor (72% responden). Sementara dari sisi jarak tempuh, 79,21% responden menggunakan ojek online untuk bertransportasi sejauh 0-10 km per hari.

Baca juga:  Bikers Pintar Dan Beretika Saat Berpuasa

Fakta ini membuktikan bahwa ojol digunakan untuk mengisi kebutuhan masyarakat dalam bermobilitas jarak pendek. Ojol juga mendukung konsumen terhubung dengan transportasi publik massal yang terus berkembang. Sementara yang menggunakannya untuk rentang jarak 15 km – lebih dari 25 km per hari persentasenya hanya 20,78% responden.

Fakta menarik lain yang ditemukan dalam survei ini yakni ada 8,85% responden tidak pernah kembali menggunakan kendaraan pribadi setelah adanya transportasi ojol. Sementara 72,52% responden masih menggunakan kendaraan pribadi, namun frekuensinya hanya 1-10 kali/pekan.

“Jika tarif ojol naik drastis, ada kemungkinan konsumen akan kembali beralih ke kendaraan pribadi, sehingga frekuensi penggunaan kendaraan pribadi di jalanan akan semakin tinggi,” kata Zumrotin. [dp/PNB]