Insentif Pajak Kini Mengacu Kadar Emisi, Bukan Kapasitas Mesin


JAKARTA (DP) – Pemerintah siap memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), yang kini mengacu pada kadar emisi karbon.

Dalam aturan baru ini, PPnBM tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, namun pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. Semakin rendah emisi, semakin rendah tarif PPnBM kendaraan, dan skema itu tengah dikonsultasikan oleh pemerintah kepada parlemen.

“Insentif baru yang dikeluarkan pemerintah ini disederhanakan menjadi berbasis emisi. Skema harmonisasi ini diharapkan bisa mengubah kendaraan produksi dalam negeri menjadi rendah emisi, meningkatkan investasi dan memperluas pasar ekspor,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Kamis (14/3).

Menurut Airlangga, dalam aturan baru, pemerintah mengusulkan supaya prinsip pengenaan PPnBM mengacu pada kadar emisi. Jadi, semakin rendah emisinya, maka semakin rendah tarif pajaknya. Berbeda dengan aturan sekarang yang mempertimbangkan besaran kapasitas mesin mobil.

Baca juga:  Pemerintah Upayakan Mobil Listrik Diterima Konsumen

“Harmonisasi skema PPnBM ini sekaligus memberikan insentif produksi motor dan mobil listrik di Tanah Air, sehingga PPnBM menjadi nol persen. Bila dalam aturan sebelumnya insentif hanya diberikan untuk kendaraan bermotor hemat energi dan harga terjangkau (KBH2), dalam aturan baru ini insentif diberikan kepada Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) atau kendaraan bermotor kategori beremisi karbon rendah,” papar dia.

Selain itu, insentif juga diberikan untuk kendaraan Hybrid Electric Vehicle (HEV) yang mengadopsi motor listrik dan baterai untuk peningkatan efisiensi, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) yang dayanya dapat diisi ulang di luar maupun di luar kendaraan, dan Flexy Engine.

Perubahan skema PPnBM ini, lanjut Airlangga, diproyeksikan berlaku pada 2021. Hal tersebut mempertimbangkan pada kesiapan para pelaku usaha.

“Dengan tenggat waktu dua tahun, pelaku usaha mampu melakukan penyesuaian dengan teknologi atau bisa memenuhi syarat untuk mendapatkan tarif PPnBM yang lebih rendah, lalu pelaku usaha baru bisa mendapatkan kepastian berusaha,” ujarnya.

Baca juga:  Raih Pole Position di Jepang, Dovizioso Bisa Tunda Marquez Juara Dunia

Airlangga menambahkan, pertumbuhan industri otomotif di Tanah Air sangat meyakinkan dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di sektor industri nonmigas sebesar 9,98%. Data ekspor kendaraan bermotor roda dua menunjukkan tren kenaikan sebesar 53% dan 44% pada 2016 serta 2018.

“Kalau kita lihat dari unitnya, roda empat ini produksinya 1,3 juta nilainya US$13,7 miliar dan ekspornya ke mancanegara mencapai 346.000 atau US$4,7 miliar,” tutur Airlangga. [dp/PNB]