Ternyata Mayoritas Masyarakat Takut Naik Mobil Otonom


LOS ANGELES (DP) – Selain mobil listrik, mobil otonom alias swakemudi sudah tak bisa dihindarkan demi menunjang kelancaran mobilitas manusia. Tapi kecanggihan teknologi ini bukan tanpa cela, karena aspek keamanan tetap menjadi fokus perhatian.

Berbagai kasus kecelakaan yang dialami mobil berteknologi otonom, membuat sejumlah perusahaan teknologi yang terjun di bisnis ini bahkan ada yang menghentikan untuk sementara program uji coba mobil otonom di jalan umum. Itu artinya, teknologi otonom masih belum sempurna untuk mengambil alih tugas manusia dalam mengendalikan kendaraan.

Selain faktor teknologinya yang belum sempurna, dukungan infrastruktur yang kompatibel dengan teknologi tersebut juga menjadi salah satu pemicu kegagalan tekonologi otonom berjalan sesuai ekspektasi.

Untuk itu, American Automobile Association (AAA), organisasi yang memayungi klub kendaraan bermotor di Amerika Serikat dan Kanada, melakukan survei untuk mengetahui sikap publik terhadap teknologi otonom.

Baca juga:  Mulai Kemarin, MRT Jakarta Uji Coba Angkut Penumpang

Survei terbaru AAA mengungkap bahwa 71 persen orang dewasa di Amerika takut mengendarai mobil yang bisa mengemudikan sendiri (otonom).

AAA menduga besarnya persentase publik yang takut mengendarai mobil otonom dipicu oleh tingginya angka kecelakaan yang melibatkan mobil berteknologi tinggi itu selama tahun lalu.

Tapi ada respons positif juga terhadap teknologi otonom dari studi itu, yang jumlahnya 53 persen. Menurut responden itu, mereka masih merasa nyaman dengan kendaraan swakemudi untuk kecepatan rendah dan jarak pendek, seperti kendaraan pengangkut penumpang di bandara atau di tempat wisata.

Namun demikian, jika teknologi otonom diterapkan pada kendaraan umum, tercatat 47 persen yang merasa kurang nyaman atau bisa dibilang takut.

Kemudian, terjaring 44 persen responden yang mengaku nyaman dan bisa menerima kendaraan berteknologi otonom untuk pengantaran makanan atau paket.

Temuan lainnya dari studi AAA ini mengungkap bahwa pengemudi yang memiliki kendaraan berteknologi tinggi seperti lane-keeping assist, adaptive cruise, automatic emergency braking, atau self-parking systems, 68 persen mengaku lebih percaya dengan teknologi tersebut dibandingkan dengan mereka yang memiliki kendaraan tanpa fitur canggih tersebut.

Baca juga:  Samsung akan 'Acak-acak' Industri Otomotif dengan Investasi Rp324 Triliun

Lucunya, 32 persen orang yang disurvei tifak mengetahui mobil mereka memiliki beragam teknologi seperti yang disebutkan di atas, dan bahkan mereka heran kenapa ada bunyi peringatan yang keluar ketika mobil mereka berpindah jalur di jalan raya (lane-keeping assist).

Menurut Greg Brannon, direktur bidang Automotive Engineering and Industry Relations di AAA, mengatakan meski tingkat ketakutan publik terhadap teknologi otonom masih tinggi, namun banyak warga Amerika yang ingin teknologi tersebut diterapkan setahap demi setahap sebelum akhirnya menjadi otonom penuh. [dp/TGH]