Apa di Balik Keputusan Blue Bird Luncurkan Taksi Listrik?


JAKARTA (DP) – Emiten sektor transportasi, PT Blue Bird Tbk (BIRD), terus meningkatkan kinerjanya saat merilis 29 unit mobil listrik yang dioperasikan sebagai taksi (reguler dan Silverbird) di Jakarta menjelang akhir April lalu.

Peluncuran mobil listrik untuk taksi tersebut dilakukan tak lama setelah Grab meluncurkan layanan taksi bertenaga listrik di Singapura, medio Januari 2019 yang lalu. Banyak orang yang berspekulasi, perusahaan dengan kode emiten BIRD ini meluncurkan taksi bertenaga listrik untuk mengambil momentum agar pamor si Burung Biru ini kembali mencuat dan menarik perhatian publik.

Dengan meluncurkan taksi bertenaga listrik, Blue Bird setidaknya bisa menjadi pusat perhatian dan mendapatkan stempel sebagai taksi pionir yang memakai mobil listrik di Indonesia. Beberapa tahun lalu, Blue Bird juga mengoperasikan mobil hybrid dan gas untuk taksi.

Sejatinya, taksi yang memakai kendaraan listrik bukanlah hal baru. Sudah banyak perusahaan taksi di negara lain yang menggunakan mobil listrik sebagai armada taksi, khususnya di Eropa dan China.

Baca juga:  Uniknya Kampanye #PilihXPANDERPinterBener

Yang terbaru, ada perusahaan taksi di India dan Singapura menggunakan mobil listrik sebagai taksi. Perkembangan penggunaan taksi di belahan benua lain inilah yang diadopsi Blue Bird.

Untuk tahap awal, Blue Bird Group mengoperasikan 25 unit mobil listrik merek BYD e6 dan empat unit Tesla Model X 75D. Mobil listrik BYD dari China akan menjadi taksi Blue Bird berkelir biru, sementara mobil listrik Tesla asal Amerika Serikat akan menjadi Silver Bird dengan warna bodi hitam.

Investasi awal untuk pengadaan mobil listrik ini, Blue Bird membelanjakan hampir Rp40 miliar. Jika tak ada aral melintang, perseroan akan mengoperasikan 200 unit mobil listrik hingga 2020.

Dengan jumlah armada ini, bisa menghilangkan 434.095 kg emisi CO2 atau konsumsi BBM sebanyak 1,9 juta liter bensin. Penambahan armada mobil listrik akan terus dilakukan secara bertahap.

Dalam rencana, dari 2020 sampai 2025, akan ada tambahan 2.000 unit mobil listrik lagi. Dari jumlah pemakaian mobil listrik itu, bisa menghilangkan 21.704.760 kg emisi CO2 atau setara konsumsi BBM 94,9 juta liter.

Baca juga:  Gencarnya KTB Incar Pasar Truk Medium, Fighter Jawabannya

Namun, usaha Blue Bird untuk menggunakan lebih banyak kendaraan listrik tersebut terkendala minimnya fasilitas Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) yang terbatas.

Perseroan akan membangun sendiri charging station di 12 pool taksi yang mereka miliki dan bekerja sama dengan PLN sehingga bisa digunakan untuk mengisi baterai di lokasi sendiri.

Analis Panin Sekuritas, William Hartanto, mengatakan prospek bisnis emiten-emiten transportasi bakal bagus tahun ini. Alasannya karena dengan adanya aturan soal angkutan online, maka tarif mereka relatif lebih murah pada radius tertentu.

“Selain itu lebih aman dan resmi dibanding angkutan online. Jadi, kinerja tahun ini akan membaik tanpa memerlukan ekspansi yang besar,” katanya dalam risetnya.

Di sisi lain, William menilai kehadiran Mass Rapid Transport (MRT) akan menjadi hambatan baru bagi emiten-emiten.

“Penumpang yang secara kebetulan bepergian pada rute yang sama yang dilalui MRT tentu lebih memilih MRT karena perbedaan tarif. Jadi upaya pemerintah mengurangi macet memang menghambat emiten-emiten ini, namun untuk kinerja akan lebih baik di tahun ini,” paparnya.

Baca juga:  Indonesia Targetkan 2035 Produksi Kendaraan Pengonsumsi Biofuel

Dari sisi saham, William merekomendasikan beli saham BIRD, dengan target harga di level Rp 3.700 per saham. [dp/TGH]