Donald Trump Ajak ‘Perang’, Toyota Pun Berang


LOS ANGELES (DP) – Di saat perang dagang dengan China masih berkecamuk, Presiden AS Donald Trump malah mengajak ‘perang’ Toyota yang selama ini justru berjasa dalam menggerakkan perekonomian Negeri Paman Sam.

Akhir pekan lalu, Gedung Putih menerbitkan maklumat tentang dampak impor mobil yang terangkum pada section 232 dalam Trade Expansion Act of 1962, yang menyebutkan bahwa impor mobil berpotensi mengancam keamanan nasional.

Disebutkan juga bahwa perubahan pada regulasi impor otomotif sebagai salah satu cara untuk mengurangi ancaman tersebut.

Toyota, sebagai salah satu importir terbesar, langsung merespons keras kebijakan Trump itu. Pabrikan otomotif terbesar Jepang itu menilai mereka telah memberikan dampak besar kepada rakyat Amerika berupa lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi selama puluhan tahun sejak beroperasi di Negeri Paman Sam.

Toyota juga menyebut Proclamation yang dikumandangkan Trump adalah kemunduran besar bagi konsumen Amerika.

Baca juga:  Jajal Sirkuit Sentul Jadi Menu Utama HUT COC ke-7

Menurut Toyota, dokumen yang dirilis Gedung Putih merupakan pesan yang menyatakan investasi besar Toyota tidak diterima di Amerika Serikat dan kontribusi yang diberikan oleh 475.000 tenaga kerja Toyota dianggap tak ada nilainya.

Pembatasan impor, kata Toyota dalam pernyataan resminya, akan memberikan efek yang berlawanan dari yang diharapkan, dan tidak akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja atau menggairahkan perekonomian.

“Pembatasan impor akan mengurangi pilihan bagi konsumen dan berdampak pada seluruh pabrikan mobil, karena suku cadang kendaraan yang dipakai industri manufaktur Amerika didatangkan dari seluruh dunia,” tegas Toyota.

“Jika kuota impor diterapkan, yang paling dirugikan adalah konsumen karena mereka akan membayar lebih mahal dan memiliki pilihan kendaraan lebih sedikit di pasar,” imbuh Toyota.

Saat ini raksasa otomotif dunia itu tengah menanti apa yang akan diputuskan Trump, sehingga mereka bisa merumuskan langkah yang tepat untuk merespons.

Baca juga:  Upaya BCA Finance Ciptakan Kondisi Kondusif di Sektor Pembiayaan Otomotif

Jika kelak Trump memutuskan untuk membatasi impor barang terkait otomotif, itu akan lebih menyulitkan Toyota untuk kembali merebut tahta sebagai pabrikan mobil terbesar dunia. [dp/TGH]