Gajah Tunggal Gelindingkan IRC dan Zeneos ke Asia

PT Gajah Tunggal bakal menggiatkan ekspor ban jenis IRC dan Zeneos ke berbagai negara di Asia.

JAKARTA (DP) – Produsen ban, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), kini fokus pada peningkatan pangsa pasar ekspor ban sepeda motor merek IRC dan Zeneos di Asia, dan ditargetkan volume ekspornya meningkat menjadi 40%, dibandingkan realisasi tahun lalu sekitar 38%.

“Selama ini kami fokuskan penjualan ban sepeda motor untuk pasar domestik, namun karena permintaan yang besar, kami akan meningkatkan ekspor segmen ini, terutama untuk kawasan Asia didukung tingkat pengguna sepeda motor yang besar,” kata Direktur Komunikasi Korporat dan Hubungan Investor Gajah Tunggal, Catharina Widjaja, di Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Perseroan, menurut Catharina, akan mengoptimalkan utilisasi pabrik demi menaikkan produksi. Utilisasi ditargetkan naik menjadi 80%, dibandingkan posisi sekarang sekitar 65% dan perseroan tidak berencana untuk ekspansi.

“Utilisasi kami masih rendah, kami hanya meningkatkan kapasitas yang ada saja,” papar dia lebih lanjut.

Terkait belanja modal atau capital expenditure (capex), lanjut Catharina, pihaknya menyiapkan US$35 juta untuk tahun ini. Dana tersebut bakal dimanfaatkan untuk perawatan dan peremajaan mesin produksi, seluruh belanja modal tahun ini bersumber dari kas internal.

Baca juga:  Agustus 2019, Skutik Honda Makin Merajai Pasar Ekspor

“Capex akan dimanfaatkan untuk membiayai perawatan dan peremajaan mesin produksi. Sedangkan belanja modal yang sudah terserap sebanyak US$8 juta untuk optimalisasi truk and bus radial (TBR) yang belum maksimal,” ujarnya.

Catharina menambahkan, berbagai rencana tersebut membuat perseroan optimistis membukukan kenaikan pendapatan sebesar 5% hingga 10% menjadi sekitar Rp16,11 triliun hingga Rp16,88 triliun pada tahun ini.

“Diproyeksikan penjualan ekspor menjadi penopang kenaikan tersebut,” tutur Catharina.

Target tersebut didasarkan atas membaiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, juga dengan penurunan harga karet alam sebagai bahan baku utama produk perseroan.

Tahun lalu, perusahaan merugi akibatkan jatuhnya nilai tukar rupiah. Rugi yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp74,55 miliar, dibandingkan laba bersih 2017 senilai Rp45,02 miliar. Sedangkan penjualan naik dari Rp14,14 triliun menjadi Rp15,34 triliun.

Sementara itu, rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) perseroan sepakat untuk tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham akibat rugi bersih sepanjang tahun lalu. [dp/PNB]