Semester I, Laba Bersih Astra Turun 6%


DAPURPACU  – PT Astra International Tbk. (ASII) mengalami penurunan laba bersih sebesar 6% secara year on year (YoY) sampai akhir Juni 2019 jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Laba Astra tercatat Rp9,80 triliun, dari Rp10,38 triliun di akhir Juni 2018. Nilai laba bersih per saham perusahaan juga ikut turun menjadi Rp 242/saham dari sebelumnya senilai Rp257/saham.

Pada periode semester I tahun ini ini, pendapatan perusahaan naik 3% Year on Year (YoY) menjadi Rp116,18 triliun, dari Rp112,55 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

“Penurunan kinerja akibat lesunya konsumsi domestik dan dipengaruhi oleh harga komoditas yang masih dalam tren menurun. Kami juga diuntungkan oleh peningkatan kinerja bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas yang baru diakuisisi, prospek hingga akhir tahun ini masih menantang karena kondisi-kondisi tersebut dapat berlanjut,” kata Direktur Utama Astra International, Prijono Sugiarto, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (31/7).

Penurunan laba bersih, menurut Prijono, disebabkan adanya penurunan kontribusi dari divisi otomotif dan agribisnis.

“Penurunan ini tidak mampu dikompensasi dari peningkatan kontribusi dari divisi jasa keuangan, infrastruktur dan logistik, serta alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi,” papar dia.

Penjualan mobil Astra pada periode tersebut turun 6% menjadi 253.000 unit di tengah penjualan mobil secara nasional yang juga menurun 13% menjadi 482.000 unit sebagaimana diungkapkan Gaikindo.

Pangsa pasar Astra pada segmen penjualan mobil meningkat dari 48% menjadi 53%, setelah perseroan merilis delapan model baru dan dua model revamped pada periode semester I.

Nilai aset bersih per saham grup tercatat sebesar Rp 3.444 pada 30 Juni 2019, 2% lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun 2018. Adapun aset total perusahaan mencapai Rp350,28 triliun, naik dari tahun lalu Rp344,71 triliun.

Jumlah utang bersih, di luar anak usaha keuangan, mencapai Rp23,3 triliun pada akhir periode tersebut, naik dari Rp13 triliun di akhir 2018. Kenaikan utang ini disebabkan oleh adanya investasi di tol Surabaya-Mojokerto dan Gojek serta belanja modal pada bisnis kontraktor pertambangan.

Menurut laporan perusahaan, anak usaha agribisins menjadi bisnis yang mengalami penurunan kinerja paling besar. Kinerja laba divisi bisnis ini turun 94% menjadi Rp35 miliar dari sebelumnya mencapai Rp625 miliar.

Lalu laba bisnis otomotif juga turun sebesar 18% menjadi Rp3,45 triliun dari Rp4,21 triliun.

Pertumbuhan paling tinggi dari bisnis infrastruktur dan logistik kinerjanya naik sampai 1.975% dari Rp4 miliar menjadi Rp83 miliar. Divisi yang juga tumbuh adalah jasa keuangan yang labanya naik 32% menjadi Rp2,82 triliun dari Rp2,14 triliun, dan alat berat pertambangan, konstruksi dan energi labanya naik tipis 2% menjadi Rp3,33 triliun dari sebelumnya Rp3,28 triliun.

Sedangkan kontributor terbesar kinerja laba perusahaan saat ini masih disumbang oleh bisnis otomotif dan kedua dari bisnis jasa keuangan. [dp/PNB]