Kendala Ini Bikin Blue Bird Enggan Tambah Armada Taksi Listrik


DAPURPACU – Sebagai persiapan menuju elektrifikasi kendaraan di Tanah Air, PT Blue Bird Tbk (BIRD) sudah berani melakukan terobosan dengan meluncurkan armada taksi bertenaga listrik.

Merek taksi listrik yang dipilih perusahaan taksi berkelir biru ini adalah BYD lansiran China dan Tesla dari Amerika Serikat untuk masing-masing menyasar segmen konsumen umum dan premium.

Sejauh ini, belum terlalu banyak armada taksi bertenaga listrik yang dioperasikan Blue Bird. Namun ke depan, Blue Bird menyatakan siap meningkatkan jumlah armada taksi listrik jika infrastruktur pendukung telah tersedia.

“Kita menargetkan jumlahnya bertambah secara bertahap. Namun, harus dipastikan dulu infrastrukturnya berkembang,” kata Direktur Blue Bird, Adrianto Djokosoetono, di Jakarta awal pekan ini.

Andrianto mengatakan, ada beberapa kendala yang membuat pihaknya belum bisa meningkatkan jumlah kendaraan listriknya secara signifikan, salah satunya karena jumlah charger station atau stasiun pengisian baterai belum merata dan masih menunggu rencana serta implementasi dari pemerintah.

“Saat ini yang memadai jumlahnya hanya di kantor kita, yang lain jumlahnya kurang memadai karena sedikit. BPPT punya dua, satu di Serpong satu di Jakarta, Pertamina punya satu, Angkasa Pura (bandara) punya satu, cuma ada empat, jumlahnya masih belum cukup,” papar dia.

Dalam mengembangkan kendaraan bermotor listrik, lanjut Andrianto, perseroan masih menunggu industri di dalam negeri berkembang atau turut memproduksi mobil listrik.

“Dengan begitu, mobil listrik yang digunakan tidak berasal dari negara asing,” ujar Andrianto.

Saat ini Blue Bird mengoperasikan 25 unit mobil listrik bermerek BYD dan 5 unit Tesla di jajaran armada Bluebird dan Silvebird. Jumlah itu akan ditingkatkan keseluruhan menjadi 200 unit hingga 2020. [dp/PNB]