BMW Masih Tahan Produksi X5 Bermesin Hidrogen | dapurpacu.id

BMW Masih Tahan Produksi X5 Bermesin Hidrogen


DAPURPACU – Teknologi mesin hidrogen (fuel cell) mungkin tidak asing untuk pabrikan mobil asal Jerman ini. Bagi BMW teknologi tersebut ibarat sebagai ‘permainan’ ide yang telah dilakoninya sejak beberapa tahun silam.

Bahkan Bavarian telah menguji cobakan teknologi ini pada Seri 7 di pertengahan 2000-an. Namun produk ini tak kunjung untuk digelontorkan ke pasaran. Terkini, BMW kembali melakukan hal serupa pada X5.

Seperti diketahui, BMW telah memunculkan mobil konsep i Hydrogen Next berbasis X5 di Frankfurt Motor Show, September 2019. Dan kini BMW ‘bermurah hati’ untuk berbagi lebih detail terkait produk yang dijadwalkan dirilis pada 2022 mendatang.

Pihak BMW mengaku untuk pengembangannya dilakukan bersama Toyota, di mana kolaborasi keduanya sudah berlangsung sejak lama, yakni pada 2013.

Sayangnya, i Hydrogen Next berbasiskan X5 ini dikabarkan hanya diproduksi dalam skala kecil. Dalam arti BMW hanya akan menggelontorkan unit ini berdasarkan permintaan pasar. Sementara untuk produk massalnya bakal dirilis pada 2025.

Baca juga:  BMW Astra Gratiskan Biaya Layanan Perawatan BMW dan MINI

Meski begitu, kondisi pasar lah yang menentukan terkait seberapa besar model ini diproduksi. Sebab, BMW punya tugas untuk ‘meramahkan’ harga jualnya kepada konsumen.

Seperti diketahui, pengembangan kendaraan berbahan bakar hidrogen terbilang tak murah. Bahkan dikatakan lebih mahal dari mobil listrik hybrid atau pun full listrik.

Disebutkan, bila BMW mampu melewati rintangan tersebut, diklaim produk canggih itu bisa dengan mudah diterima masyarakat dunia. Bahkan, tidak menutup kemungkinan penggunaan jenis bahan bakar itu bisa diaplikasikan ke sektor lainnya.

“Dalam pandangan kami, hidrogen, pertama-tama harus diproduksi dalam jumlah yang cukup dengan harga kompetitif. Kemudian baru digunakan ke sektor yang secara tidak langsung dapat dielektrifikasi, seperti transportasi heavy duty jarak jauh,” kata Klaus Fröhlich, Anggota Dewan Manajemen BMW AG, Research and Development dalam keterangan resminya.

BMW pun tak ingin terburu-buru. Lagi pula, tak cuma tugas di atas, infrastruktur pendukung dinilai juga kurang. Di Eropa sendiri, jumlah fasilitasnya masih sangat tak memadai, seperti stasiun pengisian bahan bakar dan pemasok belum banyak.

Baca juga:  BMW Astra Gratiskan Biaya Layanan Perawatan BMW dan MINI

“Walau begitu, BMW Group akan terus melanjutkan pengembangannya di teknologi fuel cell. Perusahaan memanfaatkan waktu yang ada sampai infrastruktur dan pasokan hidrogen yang diproduksi secara berkelanjutan tersedia untuk mengurangi biaya pembuatan sistem powertrain secara substansial,” tutupnya.

Melihat track record-nya, Toyota cukup ampuh menjajakan teknologi tersebut cukup lama, yang ditanamkan pada Mirai sejak 2015 dan terus berlangsung hingga pada generasi kedua di akhir tahun ini.

Bicara soal tenaga, total yang dihasilkan mencapai 369 hp. Semburan tenaga itu dihadirkan dari powertrain listrik dengan sistem fuel cell yang baru dikembangkan bersama ix3.

Dilengkapi baterai 74 kWh, sistem fuel cell nya saja mampu menghasilkan energi listrik hingga 168 hp, sebagai hasil dari reaksi kimia antara hidrogen dan oksigen dari udara sekitar.

Ada dua tangki bertekanan 700 bar yang masing-masing menampung 6 kg hidrogen, dan dapat diisi ulang dalam waktu singkat, sekitar 3-4 menit. [dp/MTH]