Penjualan Motor Dalam Negeri Diprediksi Merosot Tajam | dapurpacu.id

Penjualan Motor Dalam Negeri Diprediksi Merosot Tajam


DAPURPACU – Dampak dari pandemi Covid-19 di Indonesia begitu signifikan ‘menghajar’ performa penjualan sektor industri otomotif. ‘Raja’ pemuncak tangga penjualan motor di dalam negeri, PT Astra Honda Motor (AHM) pun merasakan kondisi itu.

Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia (AISI) Johannes Loman, memprediksi bakal terjadi penurunan penjualan sepeda motor secara nasional tahun ini.

“Dari target semula sebanyak 6,4 juta unit sepanjang 2020, diyakini turun menjadi 3,6-3,9 juta unit atau sekitar 40-45%,” kata pria yang juga menjabat sebagai Executive Vice President PT AHM, kepada media Kamis lalu.

Prediksi ini terbilang lebih rendah dibanding hitung-hitungan Sekretaris Jenderal AISI Hari Budiarto, yang sebelumnya memperkirakan penurunan penjualan motor dalam negeri sebesar 25% – 30% dari pencapaian tahun lalu yang sebesar 6,48 juta unit.

Dilansir dari CNNIndonesia, data wholesales lima anggota AISI per April lalu mengalami penyusutan tajam dibanding Maret. Di bulan itu, AISI mencatat 561.739 unit, beralih ke April hanya memperoleh 123.782 unit.

“Kami perkirakan dengan diberlakukannya masa PSBB di berbagai wilayah di Tanah Air, yang membuat masyarakat tidak bisa beraktivitas. Selain itu, melambatnya ekonomi yang membuat pembelian unit tertahan,” jelas Loman.

Dia juga mengatakan, menurunnya penjualan motor tahun ini disebabkan karena perusahaan pembiayaan yang memberikan kredit kepada konsumen sangat ketat.

“Kita ketahui penjualan motor bergantung dari kredit, di mana kondisi ini memengaruhi bisnis kami. Atas dasar inilah, kami mengoreksi target menjadi 3 juta unit tahun ini,” tambahnya lebih lanjut.

Hal itu pun diamini oleh Direktur Marketing AHM, Thomas Wijaya, yang menurutnya penjualan lini produk motor Honda banyak ditopang dari konsumen yang melakukan pembayaran secara kredit.

Dia mengakui pengetatan yang diberikan oleh pihak perusahaan pembiayaan juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi. Pada kondisi normal, klaim Thomas, transaksi kredit mencapai 65-70%.

“Konsumen kami masih banyak yang bergantung pada perusahaan pembiayaan, sebanyak 65-70% itu konsumen kami membeli sepeda motor secara kredit,” pungkasnya. [dp/MTH]