India Tunda Program 10.000 Mobil Listrik. Indonesia Bagaimana?


NEW DELHI (DP) – Di negara-negara dengan populasi kendaraan tinggi atau dengan kepedulian tinggi terhadap lingkungan, saat ini tengah berlomba menerapkan program mobil listrik. Indonesia pun mewacanakannya.

Bila di negara-negara Barat, seperti di Amerika dan Eropa, kehadiran mobil listrik bukanlah hal aneh karena mereka memiliki infrastruktur yang memadai. Di Asia, mungkin China dan Jepang yang paling siap dalam hal penyediaan infrastruktur mobil listrik.

Bahkan China telah mewajibkan semua pabrikan mobil untuk menyisihkan 10 persen dari total penjualan mereka dengan mobil listrik mulai tahun depan. Itulah mengapa Toyota yang selama ini terlalu fokus pada mobil hybrid, plug-in hybrid dan fuel cell hidrogen, mau tak mau harus menyiapkan mobil listrik agar bisa ‘bermain’ di segmen mobil listrik di Negeri Tirai Bambu. Toyota mengajak pabrikan lokal, GAC, untuk meluncurkan mobil listrik.

Kini melihat program ambisius India, yang mencanangkan target 10.000 mobil listrik hingga Maret 2018. Tapi dukungan infrastruktur yang tidak memadai membuat India menunda target itu selama setahun lagi. Dengan begitu, target untuk memiliki sekitar 30 persen dari total mobil yang digunakan pemerintahan pada 2030 bakal meleset.

Adalah lembaga pemerintah bernama Energy Efficiency Services yang bertanggung jawab atas pengadaan mobil listrik untuk menggantikan armada mobil bensin dan diesel yang dipakai para pejabat dan pegawai kantor pemerintahan. Target pertama adalah 10.000 mobil listrik hingga Maret 2018 lalu, tapi target ini diundur menjadi Maret 2019.

Saurabh Kumar, Managing Director Energy Efficiency Services, mengatakan pihaknya meluncurkan tender pertama 10.000 mobil listrik pada September. Untuk tahap awal 500 unit pada November dan sisanya hingga Juni tahun depan.

“Kebutuhan lebih banyak stasiun pengisian baterai (charging station) untuk 10.000 mobil listrik dan keterlambatan dalam pengadaan ini yang membuat program ini ditunda,” kata Kumar.

Baca juga:  All New Toyota Corolla Altis Hybrid Meluncur 12/9, Anda Mau Beli?

Saat ini ada sekitar 150 mobil di Ibukota New Delhi dan sekitar 100 mobil di Negara Bagian Andhra Pradesh serta beberapa provinsi lainnya. Dari sekitar 200 charging station yang dibangun untuk mobil listrik tersebut, lebih dari 100 berada di Delhi.

Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi menginginkan lebih dari 30 persen kendaraan berteknologi listrik pada 2030 guna mengurangi polusi dan ketergantungan pada minyak fosil.

Namun, lebih murahnya harga mobil bermesin konvensional dan tidak adanya subsidi pemerintah untuk pembelian mobil listrik, baik oleh lembaga pemerintah maupun swasta, jelas menjadi hambatan tersendiri bagi penjualan mobil listrik, kata analis BNEF, Allen Tom Abraham, yang memperkirakan ada sekitar 7 persen mobil listrik dari total kendaraan yang beredar pada 2030.

Abraham menilai bahwa jika program elektrifikasi kendaraan terus mundur, para pabrikan mobil akan lebih lama lagi untuk memperkenalkan mobil listrik secara massal di India.

Untuk tender mobil listrik tahap pertama dari pemerintah India itu dimenangi oleh Tata Motors dan Mahindra & Mahindra.

Pelajaran bagi Indonesia

Untuk kasus penundaan target 10.000 mobil listrik di India itu dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia. Bagaimana tidak, selain kondisi perekonomian, infrastruktur dan populasi kendaraan, pemahaman masyarakat terkait mobil listrik juga mirip antara India dengan Indonesia.

Mumpung program mobil listrik di Indonesia baru tertuang dalam draft kebijakan, hendaknya apa yang terjadi di India dapat menjadi kajian dalam perumusan kebijakan yang lebih komprehensif dan melibatkan semua unsur pendukungnya.

Tapi yang paling esensial bagi kesuksesan mobil listrik di suatu negara adalah faktor dukungan infrastruktur dan kebijakan pemerintah yang pro-mobil listrik, terutama subsidi agar harga mobil listrik lebih terjangkau layaknya mobil konvensional. Tanpa dukungan itu, program mobil listrik yang diwanakan di Indonesia bakal hanya sebatas wacana.

Baca juga:  Honda e Resmi Dijual Mulai Musim Panas 2020

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Warih Andang Tjahjono pernah mengatakan bahwa pengembangan mobil listrik (Electric Vehicle/EV) harus dibarengi dengan pembangunan industrinya di dalam negeri, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar untuk kendaraan tanpa emisi tersebut.

“Jika tidak, Indonesia hanya akan menjadi pasar dan importir mobil listrik saja,” kata Warih belum lama ini.

Menurut Warih, dalam menuju era mobil listrik, industri dalam negeri juga harus disiapkan sehingga dapat mendukung program elektrifikasi kendaraan yang dilakukan. “Jika industrinya tidak siap, kita hanya jadi tempat dagang,” sebut Warih.

“Jadi era mobil listrik harus dinikmati oleh industri dalam negeri (komponen),” ujarnya.

Salah satu yang perlu disiapkan, lanjut Warih, adalah industri baterainya. Baterai adalah komponen utama dalam mobil listrik.

“Ke depan adalah bagaimana industri komponen kita bisa menjadi pemasok global bagian dari baterai tersebut. Kita punya beberapa sumber daya alam yang bisa digunakan membuat bagian baterainya, ini yang harus dikembangkan,” papar dia.

Sedangkan Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian, Harjanto, mengatakan dalam pengembangan mobil listrik akan dilakukan secara bertahap. Pihaknya menargetkan pada 2025 produksi mobil listrik sudah 25%.

Infrastruktur

Jika masalah industri manufaktur otomotif dan komponen pendukung mobil listrik di Tanah Air kelak sudah siap, infrastruktur pendukung juga harus sejalan.

Di beberapa negara Barat dan juga China, kesiapan infrastruktur, terutama charging station, yang menjadi kunci sukses mobil listrik. Bayangkan bila ketersediaan charging station terbatas, sementara jumlah populasi mobil listrik meningkat berkat efektifnya pemberian subsidi dan insentif pajak, kita akan sering menyaksikan antrean panjang mobil listrik yang ingin mengisi ulang baterai.

Kondisi seperti itu mungkin mirip dengan minimnya ketersediaan stasiun pengisian bahan bakar gas di Jakarta, yang memicu antrean panjang angkutan umum, seperti Bajaj, Mikrolet, taksi dan bus Transjakarta. Akibatnya, saat ini mungkin hanya Bajaj dan bus Transjakarta yang sebagian masih menggunakan bahan bakar gas, sedangkan taksi dan angkutan kota sudah meninggalkannya karena tak efektif.

Baca juga:  Mitsubishi Motors Tampilkan SUV Listrik di Tokyo Motor Show 2019

Belajar pada kasus di India dan Jakarta tadi, ini yang harus dipikirkan oleh para pemangku kepentingan di negeri ini agar program mobil listrik tak hanya jadi program yang hanya seumur jagung, melainkan jadi program besar menuju lingkungan yang bersih dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang kian menipis cadangannya di perut Bumi.

Diperlukan sinergi di antara semua pemangku kepentingan, mulai dari pihak yang fokus pada industrinya, penyusun kebijakan, perpajakan, pembangunan infrastruktur dan yang tak kalah penting sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai mobil listrik.

Bila semua itu berjalan dengan baik dan dilandasi kesadaran bahwa mobil dengan bahan bakar alternatif (CNG dan hidrogen), hybrid, plug-in hybrid serta teknologi listrik murni adalah keniscayaan di tengah semakin menipisnya cadangan minyak bumi, maka Indonesia diharapkan tak hanya menjadi pasar atau pengimpor mobil listrik, tapi sebagai salah satu basis produksi mobil listrik di dunia.

Ingat, potensi industri otomotif Indonesia cukup besar dan diakui dunia. Yang dibutuhkan segera saat ini adalah kebijakan pemerintah, baik soal industri maupun perpajakan, agar wacana mobil listrik itu segera berubah menjadi program nyata. Tak peduli apakah mobil listrik yang akan hadir lebih dulu, atau secara bertahap dimulai dengan mobil hybrid, plug-in hybrid dan kemudian mobil listrik murni, yang penting kebijakan tentang mobil ramah lingkungan itu jangan lama-lama perumusannya.

Saat ini tengah dilakukan revisi beberapa poin dalam Peraturan Presiden (Perpres) tentang mobil listrik. Dalam perpres tersebut akan mengatur bagaimana pengembangan mobil listrik ke depan. [dp/TGH]