Menakar Kekuatan Industri Otomotif Indonesia


JAKARTA (DP) – Seiring gonjang-ganjing perekonomian global, yang diwarnai pelemahan nilai tukar mata uang sejumlah negara berkembang, termasuk rupiah, industri otomotif nasional masih menunjukkan geliat positif.

“Sektor strategis ini semakin memperdalam struktur manufakturnya, sehingga diyakini akan lebih berdaya saing global serta mampu memenuhi kebutuhan di pasar domestik dan ekspor,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai bertemu dengan CEO Mitsubishi Motors Corporation (MMC) Osamu Masuko di Jakarta medio pekan ini.

Apa yang dipandang sebagai prospek cerah oleh Airlangga itu terpancar dari komitmen investasi baru dari Mitsubishi Motors di Tanah Air.

“Kami memberikan apresiasi kepada Mitsubishi Motors atas komitmennya menambah investasi di Indonesia, dengan meningkatkan kapasitas produksinya, tenaga kerjanya, dan ekspornya,” kata Airlangga.

Langkah Mitsubishi tersebut sebagai wujud nyata semangat dan kepercayaan diri pelaku industri di dalam negeri untuk terus melakukan ekspansi.

Baca juga:  Dua Brand Asal China Bikin 'Melek' FORWOT Car of The Year 2018

“Mereka akan mendirikan pabrik mesin Xpander di Indonesia sehingga dapat mengoptimalkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Ini bagus untuk mengurangi ketergantungan impor,” papar dia.

Industri otomotif, lanjut Airlangga, merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang tengah diprioritaskan pengembangannya karena disiapkan menjadi pionir dalam penerapan revolusi industri keempat. Hal ini sesuai dengan inisiatif peta jalan Making Indonesia 4.0.

Untuk itu, Kementerian Perindustrian aktif mendorong terciptanya penambahan investasi baru maupun perluasan usaha, serta mengajak pelaku industri otomotif untuk mengadopsi teknologi terkini.

“Upaya ini diharapkan dapat menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk merealisasikan target produksi mobil sebanyak 1,5 juta unit pada 2020,” ujarnya.

Pada triwulan I tahun ini, industri alat angkutan tumbuh sebesar 6,33%, di atas pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,06%. Industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain, juga masuk dalam lima besar investasi sektor manufaktur pada kuartal pertama tahun ini dengan nilai sebesar Rp3,35 triliun. [dp/TGH]