GM akan Hapus Pajak Kendaraan Listrik di AS

Penjualan kendaraan listrik General Motors yang gemilang di 2018, memicu dihapusnya pajak di Amerika Serikat.

DETROIT (DP) – Sepanjang 2018, General Motors (GM) mampu merengkuh total penjualan kendaraan listriknya sebanyak 200.000 unit di Amerika Serikat. Dengan hasil ini cukup memicu penghapusan kredit pajak secara bertahap sebesar US$7.500 untuk 15 bulan ke depan.

Sejatinya, pabrikan mobil terbesar di Negeri Paman Sam ini telah mencapai angka penjualan tersebut di kuartal keempat, seperti dilansir Autoblog. Artinya, kredit akan jatuh ke 3.750 dolar AS pada April, dan kemudian turun menjadi 1.875 dolar AS di Oktober selama enam bulan.

Jika kondisi ini terus berlangsung positif, kredit akan sepenuhnya hilang pada April 2020. Sebelum rilis hasil penjualan ini terlontar, Kamis (3/1), pihak GM telah memprediksi bahwa angka penjualan 200.000 unit bakal tercapai sebelum tahun 2018 berakhir.

Sebagai informasi, kredit pajak ini merupakan insentif dari pemerintah AS yang bertujuan untuk membiayai produksi kendaraan listrik,  di mana pembiayaannya lebih mahal ketimbang kendaraan mesin pembakaran internal berukuran serupa.

Baca juga:  Asyik, Mobil Listrik Bisa Diproduksi di Indonesia 2025

Pada 2009 silam, Kongres telah menetapkan bahwa ambang batas penghapusan kredit pajak adalah 200.000 unit per pabrikan. Sayangnya, pihak GM enggan berkomentar terkait pencapaian tersebut.

Selain GM, Tesla menjadi pabrikan pertama yang (juga) mencapai penjualan 200.000 unit kendaraan listrik di negara itu. Bahkan jumlah tersebut telah berhasil diraih sejak Juli 2018, yang memicu penghitungan insentif pajaknya sendiri.

Pada 1 Januari 2019, pembeli Tesla dapat mengambil keuntungan dari US$3.750 insentif pajak untuk enam bulan pertama tahun ini, setelah dipangkas dua lagi sebelum dihilangkan pada akhir tahun. Akibatnya, Tesla mengumumkan rencananya akan menurunkan harga kendaraan.

Insentif pajak telah menjadi bahan perdebatan dalam beberapa bulan terakhir. Anggota parlemen seperti Senator John Barrasso dari Wyoming mencoba untuk menutup program tersebut. Sementara Senator Dean Heller dari Nevada mengusulkan untuk menghapus batasan jumlah kredit pajak yang diizinkan per produsen mobil.

Baca juga:  Lagi, Lexus-Toyota Jadi Merek Paling Handal di Consumer Reports

Pada bulan Maret, Kepala Eksekutif GM Mary Barra meminta Kongres memperluas kredit pajak konsumen untuk kendaraan listrik, karena pihaknya tengah meningkatkan produksi Bolt EV untuk memenuhi permintaan konsumen. Dia mengulangi permintaan itu bulan lalu saat berkunjung ke Capitol Hill.

Di November lalu, pihak GM berencana untuk menggandakan sumber daya yang dialokasikan untuk mengembangkan kendaraan listrik dan swakemudi sebagai bagian dari restrukturisasi signifikan yang mencakup penghentian produksi lima pabrik di Amerika Utara.

GM juga mengumumkan akan menghentikan produksi hibrida plug-in Chevrolet Volt pada Maret mendatang.

Pada bulan November, sebuah laporan kongres mengatakan sebanyak 57.066 wajib pajak mengklaim US$375 juta dalam kredit pajak kendaraan listrik pada 2016. Kongres memperkirakan biaya insentif pajak kendaraan listrik sebesar 7,5 miliar dolar AS bisa tercapai antara tahun fiskal 2018 dan 2022.

Dibalik kesuksesan GM dan Tesla, bisa jadi Nissan bakal menyusul di posisi ketiga, yang diikuti oleh Ford. Meski begitu, hingga berita ini diturunkan belum ada informasi kapan pencapaian angka 200 ribu unit bisa tergapai.

Baca juga:  Tempati Start Kedua, Begini Perasaan Dovi

Sejauh ini, Nissan hanya mengandalkan Leaf EV yang hingga mampu terjual 130 ribu unit per tahun, sedangkan Ford hanya sekitar terjual 112.000 unit. [dp/MTH]