Pengoperasian Mobil Listrik Bluebird Bisa Jadi Acuan


DAPURPACU – Industri otomotif nasional telah memasuki babak baru menuju elektrifikasi kendaraan menyusul ditandatanganinya Peraturan Presiden (Perpres) tentang mobil listrik oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) awal pekan ini.

Sejumlah Agen Pemegang Merek (APM) diantaranya Toyota Indonesia, menyatakan komitmennya untuk bekerjasama dengan pemerintah mendukung pengembangan kendaraan electric vehicle (EV) yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Meski mendukung sepenuhnya kebijakan tersebut, namun sebagian para pemain industri otomotif nampaknya masih ragu, apakah Indonesia benar-benar sudah siap memasuki era baru menuju elektrifikasi murni, mengingat kesiapan masyarakat dan infra struktur yang belum tersedia.

Ada fakta menarik tentang pengoperasian kendaraan listrik dan ketersediaan stasiun pengisian baterai yang masih sangat terbatas oleh perusahaan taksi pengguna mobil listrik, yakni Bluebird. Perusahaan taksi ini telah mengoperasikan merek BYD buatan China dan Tesla lansiran Amerika Serikat.

Perusahaan taksi dengan warna korporat biru ini sejauh ini baru memiliki stasiun pengisian baterai di pool mereka dan juga di Bandara Soekarno-Hatta. Untuk di tempat umum, sepertinya Bluebird belum memilikinya. Kita bisa lihat, tak banyak taksi Bluebird bertenaga listrik yang berkeliaran di jalan-jalan di Ibukota.

Baca juga:  Ini Banderol Resmi Peugeot e-208 di Inggris

Selain Bluebird, memang sudah ada stasiun pengisian baterai dan port untuk mengisi baterai mobil listrik, tapi lokasinya hanya berada di tempat-tempat tertentu dan juga hanya untuk merek tertentu dengan jumlah yang bisa dihitung dengan jari.

Dengan kondisi lalu lintas yang kerap macet, kurangnya stasiun pengisian baterai mobil listrik ini tentu menjadi kendala besar. Bayangkan bila mobil listrik terjebak kemacetan parah hingga berjam-jam, berarti daya listrik akan banyak terkuras, sehingga juga akan mengurangi daya jelajahnya. Belum lagi bila harus melintasi jalan tol dengan jarak yang sangat jauh, sementara ketersediaan stasiun pengisian baterai terbatas, dapat dibayangkan kepanikan yang akan dihadapi para pengguna mobil listrik bila daya baterai habis di tengah jalan.

Kondisi ini tentu sangat berbeda dengan negara-negara maju, yang infrastruktur penunjang mobil listrik sudah tersebar di banyak lokasi, seperti di perkantoran, lokasi strategis, komplek pertokoan dan lainnya. Dengan begitu, konsumen tak akan merasa kesulitan ketika baterai mobil listrik mereka sudah mulai habis.

Baca juga:  Buka-bukaan Bos Lexus Soal Sikapnya yang Anti Mobil Listrik

Bertahap saja dulu

Berkaca pada kondisi di Tanah Air yang masih sangat minim infrastruktur pendukung mobil listrik, maka tak salah jika elektrifikasi kendaraan dilakukan secara bertahap dimulai dengan mobil berteknologi hybrid, yakni mobil bermesin konvensional yang dipadukan dengan motor listrik. Kemudian juga ada plug-in hybrid, yaitu mobil bermesin konvensional dengan motor listrik dan baterai yang bisa diisi ulang dayanya menggunakan port listrik biasa.

Gagasan itu pula yang pernah diungkapkan Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto.

Menurut dia, semua Agen Pemegang Merek (APM) di Tanah Air, termasuk Toyota, pasti akan mendukung semua kebijakan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan industri otomotif nasional.

“Oleh karena itu, saya yakin kebijakan pemerintah mengenai mobil listrik juga akan mendongkrak industri otomotif, termasuk investasi di dalamnya,” katanya.

Tetapi, katanya, banyak orang salah menafsirkan mobil listrik (EV), yang dikiranya semuanya sudah bertenaga listrik murni. Padahal, elektrifikasi kendaraan memiliki beberapa kategori, yakni Hybrid EV, Plug-In Hybrid EV, Battery EV, dan Fuel Cell EV.

Baca juga:  Komunitas Mobil Perempuan Ini Gelar Aksi Berbagi

Untuk itu, pemerintah perlu melihat kesiapan dan kesesuaian kondisi di Tanah Air, teknologi mana yang lebih pas diterapkan lebih dulu sebelum mencapai EV murni. Edukasi dan pemahaman masyarakat juga perlu ditanamkan agar mereka siap mengoperasikan secara aman mobil ramah lingkungan. Tapi yang terpenting adalah kesiapan pemerintah memberikan berbagai insentif untuk menekan harga mobil minim emisi dan nol emisi sehingga ramah di kantong kebanyakan konsumen Indonesia. [Dp/GTM]