DAPURPACUID – Kesenjangan antara teori di ruang kuliah dengan kebutuhan dunia kerja masih menjadi tantangan dalam menyiapkan lulusan yang siap terjun ke bidang industri.
Untuk memperkecil jarak itu, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menggandeng Universitas Udayana lewat program pembelajaran berbasis industri, yang menggabungkan materi akademik dengan praktik nyata.
Kolaborasi ini tak hanya menghadirkan kuliah umum, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami bagaimana sebuah sistem produksi diterapkan secara langsung.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membentuk pola pikir yang lebih sistematis sekaligus memperkuat kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan kerja nantinya.
Dalam kegiatan ini, Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto berbagi pengalaman mengenai budaya kerja yang menjadi fondasi Toyota selama puluhan tahun.
Menurutnya, keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh nilai-nilai yang diterapkan secara konsisten dalam setiap aktivitas.

Mahasiswa diperkenalkan berbagai prinsip yang jadi budaya kerja Toyota, seperti integritas, visi jangka panjang, saling menghargai, rasa memiliki, inovasi, serta kerja sama tim.
Selain itu, mereka juga diajak memahami konsep Bad News First, yaitu keberanian menyampaikan persoalan sejak awal agar solusi dapat segera ditemukan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari filosofi Toyota dalam membangun budaya organisasi yang terbuka dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.
Bagi perusahaan, setiap tantangan harus dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas proses kerja. Nandi menegaskan, nilai-nilai ini bukan sekadar budaya kerja di Toyota.
Salah satu implementasinya yaitu Toyota Production System (TPS) yang menjadi fondasi dalam membangun budaya perbaikan berkelanjutan, sekaligus bagian dari proses pembelajaran.
“TPS bukan sekadar sistem produksi yang lahir dari Toyota. Bagi kami, TPS adalah cara berpikir dan cara bekerja,” imbuh Nandi dalam siaran resminya, Sabtu (25/7).
Melalui TPS, lanjut dia, setiap orang didorong untuk tidak berhenti pada penyelesaian masalah di permukaan, tapi berani mencari akar persoalannya, mengambil keputusan berdasarkan fakta, dan terus melakukan perbaikan.

“Karena kami percaya, kemajuan yang berkelanjutan selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari,” papar Nandi.
Belajar Langsung dari Tempat Prosesnya
Materi diperkuat melalui kunjungan ke Lean Manufacturing Laboratory di Fakultas Teknik Universitas Udayana. Tujuannya guna melihat secara langsung penerapan TPS dalam proses pembelajaran.
TPS dikenal sebagai sistem produksi yang menitikberatkan pada efisiensi, kualitas, dan eliminasi pemborosan. Namun bagi Toyota, konsep tersebut bukan hanya metode produksi, melainkan cara berpikir dalam menghadapi setiap pekerjaan.
Mahasiswa juga diperkenalkan pada konsep Genba, yaitu prinsip untuk memahami sebuah persoalan dengan melihat langsung lokasi terjadinya proses. Dengan datang ke sumber masalah, keputusan dapat diambil berdasarkan fakta di lapangan, bukan sekadar asumsi atau laporan.
Pendekatan Genba berjalan seiring dengan filosofi Kaizen, semangat melakukan penyempurnaan secara terus-menerus melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Kedua konsep ini jadi bagian penting dalam membangun budaya kerja yang adaptif dan mampu menghasilkan peningkatan kualitas secara berkelanjutan.
“Di lapangan, mereka tak hanya mempelajari TPS sebagai teori, tetapi belajar melihat proses apa adanya, memahami mengapa sebuah persoalan bisa terjadi, lalu mencari solusi berdasarkan fakta,” imbuh Nandi.

“Kami berharap pengalaman ini menumbuhkan cara berpikir kritis, rasa ingin tahu tinggi, serta keberanian untuk terus memperbaiki setiap proses. Bekal inilah yang akan mereka bawa saat memasuki dunia industri,” tandasnya.
Melalui diskusi bersama dosen dan mahasiswa, TMMIN juga memberikan masukan mengenai pengembangan implementasi TPS di lingkungan kampus.
Tujuannya agar mahasiswa tidak hanya memahami teori Lean Manufacturing, tetapi juga mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip tersebut saat memasuki dunia industri.
Universitas Udayana merupakan salah satu dari 10 perguruan tinggi yang mendapatkan pendampingan dari TMMIN dalam pengembangan Toyota Production System.
Program serupa juga diterapkan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Hasanuddin (UNHAS), Universitas Syiah Kuala (USK), dan Universitas Darma Persada (UNSADA).
Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari pembangunan laboratorium Lean Manufacturing, pelatihan bagi dosen dan mahasiswa, penyusunan materi pembelajaran berbasis TPS, hingga pengembangan kurikulum selaras kebutuhan industri.
Melalui kolaborasi ini, TMMIN ingin menghadirkan proses pembelajaran lebih relevan dengan dunia kerja, yaitu menggabungkan pengalaman praktik, budaya industri dan pendekatan pemecahan masalah berbasis fakta.
Diharapkan memiliki bekal lebih kuat menghadapi tantangan di dunia profesional, serta mampu menjadi SDM yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing di era industri modern. [dpid/TH]














