ALVA Ungkap Tantangan Industri Motor Listrik di Cikarang

DAPURPACUID – Pengembangan industri sepeda motor listrik di Indonesia tak hanya bergantung pada kemampuan produsen dalam menghasilkan kendaraan di pabrik mereka.

Ketersediaan komponen lokal, kesiapan pemasok, infrastruktur pengisian daya, sumber daya manusia, hingga dukungan kawasan industri turut jadi bagian penting dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan.

Hal ini menjadi salah satu perspektif yang disampaikan PT Ilectra Motor Group (IMG) melalui ALVA, dalam kunjungan Panitia Kerja (Panja) Rancangan Undang-Undang (RUU) Kawasan Industri Komisi VII DPR RI.

Digelar di Kawasan Industri Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi, Rabu (23/9) lalu, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mendengarkan langsung pengalaman, tantangan, serta kebutuhan pelaku industri sebagai bahan masukan dalam penyusunan RUU.

Sebagai perusahaan yang menjalankan kegiatan manufaktur di kawasan tersebut, ALVA menyampaikan pengalaman selama mengembangkan bisnis kendaraan listrik roda dua.

Masukan ini mencakup sejumlah aspek, mulai dari manufaktur, peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), pengembangan pemasok lokal, hingga kebutuhan infrastruktur pendukung.

CEO ALVA, Purbaja Pantja menilai, pertumbuhan industri kendaraan listrik membutuhkan keterhubungan berbagai sektor. Menurutnya, pembangunan ekosistem tidak cukup hanya berfokus pada produksi kendaraan.

“Melalui kesempatan ini, kami berbagi pengalaman 5 tahun ini sebagai pelaku industri, termasuk bagaimana kawasan industri dapat berperan dalam memperkuat manufaktur, mengembangkan rantai pasok lokal, dan meningkatkan daya saing industri kendaraan listrik Indonesia,” jelasnya.

Kapasitas Produksi Capai 100.000 Unit

ALVA menyebut telah membangun ekosistem kendaraan listrik sejak 2021. Aktivitas ini mencakup riset dan pengembangan, manufaktur, kepemilikan intellectual property (IP) lokal, distribusi, penyediaan fasilitas pengisian daya, hingga layanan purnajual.

Pabrik ALVA yang berada di Cikarang memiliki kapasitas produksi hingga 100.000 unit per tahun. Pabrik tersebut mengadopsi pendekatan smart manufacturing berbasis Industry 4.0.

Dalam operasionalnya, fasilitas manufaktur tersebut juga didukung sejumlah standar dan asesmen, di antaranya ISO 9001: memperoleh penghargaan Best Design pada Good Design Indonesia Award 2026 yang diselenggarakan K2015.

Lalu ISO 14001:2015, serta asesmen INDI 4.0 dari Kementerian Perindustrian. Dari sisi produk, ALVA juga memperoleh penghargaan Best Design pada Good Design Indonesia Award 2026 dari Kementerian Perdagangan.

Penghargaan tersebut diberikan terhadap desain maupun seluruh inovasi pada Alva N3 sebagai produk mobilitas yang dikembangkan di Indonesia.

Sementara di sektor infrastruktur pengisian daya, ALVA meraih penghargaan Best Charging Station Provider untuk kategori roda dua dari Kementerian ESDM. Pengakuan ini berkaitan dengan kontribusi ALVA melalui kerja sama dengan pemasok lokal.

Komponen yang dikembangkan mencakup rangka dan struktur kendaraan, panel bodi, sistem pengereman, serta sejumlah komponen kel memperluas akses fasilitas pengisian kendaraan listrik roda dua.

Pengembangan kandungan lokal juga menjadi perhatian ALVA pada fasilitas manufakturnya. Seluruh lini produknya disebut telah memiliki TKDN lebih dari 40 persen.

Peningkatan penggunaan komponen dalam negeri dilakukan lewat kerja sama dengan pemasok lokal, yang melibatkan dua industri kecil dan menengah (IKM) binaan Kementerian Perindustrian dalam rantai pasok.

Keduanya memasok komponen battery box dan battery bracket. Meski begitu, peningkatan TKDN masih menghadapi sejumlah tantangan. ALVA mengidentifikasi beberapa faktor yang perlu diperhatikan.

Antara lain skala pasar kendaraan listrik yang masih berada dalam tahap perkembangan, kemampuan pemasok dalam memenuhi standar industri, kebutuhan investasi untuk teknologi dan tooling, serta kepastian pasar dan arah kebijakan.

Menurut ALVA, faktor-faktor tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan industri untuk meningkatkan penggunaan komponen lokal secara konsisten.

Kawasan Industri Punya Peran Penting

Kunjungan ini juga menjadi momentum bagi ALVA untuk menyampaikan pandangan mengenai fungsi kawasan industri dalam mendukung pertumbuhan industri kendaraan listrik.

Beroperasi di Kawasan Industri Lippo Cikarang memberikan sejumlah akses yang menunjang kegiatan produksi. Ke depan, ALVA melihat masih terdapat ruang untuk mengembangkan kawasan industri agar semakin sesuai dengan kebutuhan industri kendaraan listrik.

Beberapa aspek yang menjadi perhatian mencakup ketersediaan energi yang bersih dan andal, perluasan infrastruktur pengisian daya, fasilitas riset dan pengujian bersama.

Termasuk infrastruktur dasar, utilitas, tenaga kerja, jaringan logistik, serta kedekatan dengan para pemasok sekaligus mitra di sektor otomotif.

Purbaja menegaskan, keberadaan ALVA di kawasan industri memberikan akses terhadap berbagai fasilitas dan jaringan industri yang mendukung kegiatan manufaktur.

Ke depannya, lanjut dia, pihaknya melihat peluang untuk semakin memperkuat integrasi antara produsen kendaraan, pemasok komponen, pengembangan teknologi, hingga infrastruktur pendukung.

“Kami berharap pengalaman yang kami bagikan menjadi salah satu masukan dalam pembahasan RUU Kawasan Industri, sehingga pengembangan kawasan dapat semakin selaras dengan kebutuhan industri yang terus berkembang,” pungkasnya.

Jaringan Pengisian Daya Terus Bertambah

Di sisi lain, ALVA juga memperluas infrastruktur dan layanan yang berkaitan dengan penggunaan kendaraan listrik. Hingga September 2026, ALVA mencatat telah memiliki lebih dari 590 konektor Boost Charge.

Jumlah ini meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan sekitar 150 konektor pada 2025. Jaringan penjualan ALVA juga telah mencapai 19 titik, termasuk 10 ALVA Experience Center.

Sementara jaringan layanan purnajual telah tersebar di lebih dari 130 titik di berbagai wilayah Indonesia. Bagi ALVA, keberadaan kawasan industri juga menjadi salah satu elemen yang dapat mempertemukan berbagai kebutuhan tersebut. Integrasi antara produsen, pemasok Indonesia.

Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem kendaraan listrik yang dibangun ALVA tidak hanya berorientasi pada sisi produksi kendaraan.

Rantai kegiatan mulai dari manufaktur, komponen lokal, distribusi, pengisian daya, hingga layanan purnajual terus dikembangkan secara bersamaan. [dpid/TH]