DAPURPACUID – Mengantuk ketika sedang berkendara terutama saat mengendarai sepeda motor di jalan raya, bukan kondisi yang seharusnya dipaksakan untuk terus dilawan.
Minum kopi mungkin menjadi kebiasaan sebagian orang ketika membutuhkan tambahan energi. Tapi hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk terus berkendara saat tubuh sudah meminta istirahat.
Pesan ini jadi salah satu materi yang disampaikan kepada sekitar 150 pelajar SMK se-Tangerang, dalam seminar keselamatan berkendara yang digelar di Safety Riding Center Wahana Makmur Sejati, Senin (28/9) lalu.
Kegiatan yang dihelat oleh PT Wahana Makmur Sejati (WMS), Main Dealer sepeda motor Honda untuk wilayah Jakarta dan Tangerang, mengangkat tema “Secangkir Kopi Sejuta Mimpi”.
Selain membahas tentang keselamatan dalam berkendara, kegiatan tersebut mengaitkan kebiasaan minum kopi dengan kondisi fisik seseorang ketika berada di jalan.
Para peserta yang berasal dari berbagai jurusan ini mendapat pemahaman bahwa kemampuan mengendalikan sepeda motor bukan satu-satunya faktor yang menentukan keselamatan.
Kondisi tubuh dan kesiapan mental sebelum berkendara juga memiliki peranan penting. Pelajar diajak mengenali tanda-tanda kelelahan, memahami risiko ketika berkendara dalam kondisi mengantuk, serta belajar mengambil keputusan berdasarkan kondisi diri sendiri.
Head of Safety Riding Promotion WMS, Agus Sani menekankan, kemampuan mengenali batas tubuh merupakan bagian dari keterampilan berkendara yang tidak kalah penting.
Dia memaparkan, berkendara aman dimulai dari kemampuan mengenali kondisi diri sendiri. Saat tubuh sudah memberikan tanda lelah atau mengantuk, jangan memaksakan diri untuk tetap melanjutkan perjalanan.

“Berhenti dan beristirahat merupakan pilihan yang jauh lebih aman dibandingkan mengambil risiko di jalan,” imbuh Sani, dalam keterangan tertulisnya, Senin (5/10) lalu.
Diajak Pahami Risiko di Jalan
Materi edukasi keselamatan lalu lintas turut diperkuat dengan hadirnya Kanit Lantas Polsek Metro Karawaci, Iptu Alex Rusman, S.H., M.M.
Peserta memperoleh gambaran mengenai situasi kecelakaan lalu lintas, beserta sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan di jalan.
Keselamatan juga berkaitan erat dengan kepatuhan pengendara terhadap aturan lalu lintas yang berlaku di jalan raya. Oleh karena itu, para pelajar kembali diingatkan mengenai pentingnya menggunakan perlengkapan berkendara.
Termasuk menjaga konsentrasi, memperhatikan kondisi jalan, serta tidak mengambil keputusan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lain.
Pembahasan diperluas melalui kehadiran narasumber dari dunia kopi. Peserta dikenalkan dengan berbagai jenis kopi, manfaat, kekurangan, serta efek konsumsi kopi terhadap tubuh.
Topik ini sengaja dikaitkan dengan kebiasaan anak muda yang cukup dekat dengan minuman itu, terutama saat membutuhkan teman beraktivitas atau menyelesaikan berbagai kegiatan.
Namun, pesan yang ditekankan bukanlah mengajak peserta meninggalkan kebiasaan minum kopi. Hal lebih penting yaitu memahami efek kopi tidak dapat digunakan sebagai ukuran mutlak.

Ketika rasa kantuk sudah muncul, tubuh sebenarnya sedang memberikan sinyal bahwa waktu istirahat diperlukan guna menentukan apakah kondisi seseorang aman untuk berkendara kembali.
“Ngopi boleh, tidak dilarang, tapi jangan sampai membuat kita salah memahami kemampuan tubuh. Ketika sudah mengantuk, solusi yang paling aman bukan memaksakan diri untuk tetap berkendara. Kenali kondisi tubuh dan pilih keputusan yang paling aman,” tambah Sani.
Tak Hanya Mendengar Materi
Dalam kegiatan ini, WMS tidak hanya memberikan materi secara satu arah. Untuk melihat pemahaman peserta, kegiatan turut dilengkapi dengan pre-test dan post-test.
Dengan adanya metode tersebut, peserta dapat mengetahui pemahaman mereka mengenai keselamatan berkendara sebelum dan sesudah mengikuti rangkaian edukasi.
Sesi tanya jawab juga menjadi bagian dari kegiatan, sehingga pesert dapat membahas berbagai kondisi yang mungkin mereka temui ketika berkendara sehari-hari.
Peserta ditantang membuat konten media sosial mengenai pengalaman mereka selama mengikuti seminar. Aktivitas ini diharapkan dapat membuat pesan keselamatan berkendara menyebar lebih luas.
Melalui lingkungan pertemanan dan media sosial yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Dengan pendekatan ini, edukasi safety riding tidak berhenti pasca seminar selesai.
Peserta diharapkan dapat membawa pemahaman yang diperoleh ke kehidupan sehari-hari, termasuk ketika menjadi pengendara maupun ketika berada sebagai pengguna jalan lainnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi sharing sekaligus penguatan kampanye #Cari_Aman. Pesan tersebut mengajak generasi muda menjadikan keselamatan sebagai bagian dari kebiasaan ketika berkendara. [dpid/TH]














