Mobil ‘Kelahiran’ Tiongkok Bisa Kehilangan Pasar Amerika Selamanya!

DAPURPACUID – Persaingan industri otomotif global kembali memanas pasca sejumlah pabrikan besar mendesak Kongres Amerika Serikat segera mengesahkan undang-undang yang melarang kehadiran mobil asal Tiongkok secara permanen.

Desakan ini disampaikan oleh Alliance for Automotive Innovation, organisasi yang menaungi sejumlah pabrikan besar seperti General Motors, Toyota, Volkswagen dan berbagai merek otomotif lainnya.

Mereka berharap pembahasan regulasi tersebut dapat diselesaikan sebelum masa sidang Kongres berakhir pada pertengahan Desember tahun ini.

Pimpinan Alliance for Automotive Innovation, John Bozzella menilai masuknya sejumlah merek kendaraan asal Tirai Bambu ini berpotensi menghadirkan persoalan keamanan.

Sekaligus menciptakan tekanan pada persaingan ‘keras’ bagi para produsen kendaraan yang telah lama berinvestasi di industri otomotif Amerika.

“Kita perlu melindungi pasar AS dari gelombang impor China yang membawa risiko pengawasan dan merugikan produsen yang telah melakukan investasi besar selama beberapa generasi di komunitas Amerika,” ujar Bozzella.

Sejatinya, Pemerintahan Amerika telah lebih dahulu menerapkan sejumlah pembatasan. Mobil listrik (EV) buatan China dikenakan tarif impor hingga 100 persen.

Selain itu, regulasi keamanan data sekaligus teknologi juga membatasi peluang produsen China untuk memasarkan kendaraannya di negara tersebut.

Kebijakan sebelumnya juga mengatur kendaraan listrik tidak berhak memperoleh insentif pajak federal jika komponen baterai maupun mineral pentingnya berasal dari perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan China.

Namun, langkah ini dinilai belum cukup. Tahun ini, dua rancangan undang-undang tambahan mulai mendapat perhatian, yakni Connected Vehicle Security Act dan Protecting America from Chinese Cars Act.

Rancangan pertama berfokus pada keamanan teknologi kendaraan terkoneksi, perlindungan siber, serta kedaulatan data. Usulan ini telah melewati komite Senat pada Juli lalu, dan masih menunggu pemungutan suara di tingkat pleno.

Sementara Protecting America from Chinese Cars Act dirancang untuk mempersempit celah perdagangan. Aturan ini tak hanya menyasar kendaraan yang diproduksi perusahaan China.

Melainkan juga berupaya mencegah masuknya mobil-mobil melalui negara mitra perdagangan bebas, seperti Meksiko serta Kanada.

Bahkan, perusahaan dengan kepemilikan minimal 15 persen oleh induk perusahaan China atau entitas, yang didukung negara tersebut juga berpotensi terkena pembatasan.

Bozzella turut menyoroti perkembangan pasar Eropa yang dinilai jadi gambaran ekspansi industri otomotif China. Menurutnya, Uni Eropa telah mengimpor lebih dari 1,1 juta kendaraan selama delapan bulan pertama 2026, melampaui total impor sepanjang 2025.

“Dengan risiko keamanan nasional yang nyata dan pola persaingan China yang tidak adil, Kongres harus melindungi basis pertahanan serta manufaktur canggih Amerika,” tandasnya.

Kini, persoalannya bukan lagi sekadar apakah AS akan memperketat aturan, melainkan apakah Kongres mampu mengesahkan seluruh kebijakan tersebut sebelum masa sidang berakhir. Jika gagal, upaya membatasi ekspansi otomotif China berpotensi kembali tertunda. [dpid/TH]