Bukan Jepang, SUV Listrik Terbaru Lexus Justru Lahir di China

Foto: electrek

DAPURPACUID – Lexus menyiapkan langkah besar dalam pengembangan kendaraan listriknya dengan memindahkan basis produksi SUV listrik terbarunya ke Shanghai, China.

Model yang dijadwalkan meluncur pada 2027 ini akan menjadi kendaraan pertama Lexus yang diproduksi di fasilitas baru milik Toyota di China, setelah lebih dari dua dekade.

Pabrik yang berlokasi di Jinshan, Shanghai tersebut menjadi fasilitas manufaktur pertama Lexus di luar Jepang yang dibangun dari awal.

Toyota mengembangkan fasilitas ini sebagai bagian dari strategi memperkuat daya saing di pasar otomotif China yang semakin kompetitif. Pembangunan pabrik dimulai pada Juni 2025.

Pabrik ini dirancang mengintegrasikan kemampuan manufaktur global Toyota dengan kecepatan pengembangan kendaraan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar lokal.

Adapun SUV listrik perdana yang akan diproduksi di fasilitas tersebut akan memanfaatkan teknologi manufaktur modern, termasuk penggunaan gigacasting.

Foto: electrek

Metode ini memungkinkan sejumlah komponen struktur kendaraan dibuat dalam cetakan berukuran besar sehingga proses produksi dapat disederhanakan, sekaligus berpotensi menekan biaya manufaktur.

Toyota menargetkan kapasitas awal sekitar 1.000 unit per bulan sepanjang 2027. Jumlahnya direncanakan meningkat hingga puluhan ribu unit pada 2028, seiring pengembangan operasional pabrik.

Keputusan pabrikan asal Jepang ini untuk memproduksi Lexus di China juga tidak terlepas dari tantangan yang dihadapi oleh Toyota di pasar tersebut.

Persaingan dengan produsen lokal, terutama di segmen kendaraan listrik, semakin ketat seiring pesatnya perkembangan teknologi dan inovasi dari merek seperti BYD.

Data penjualan memperlihatkan tekanan itu. Sepanjang Januari – September 2026, Toyota membukukan penjualan sedikit di atas 1,05 juta unit di China, turun 18,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Toyota menyebut melemahnya pasar otomotif China turut dipengaruhi kenaikan harga bahan bakar. Segmen kendaraan bermesin bensin dan hybrid jadi bagian yang cukup terdampak kondisi tersebut.

Melalui strategi ‘with China, for China’, Lexus berupaya untuk memperkuat pengembangan produk yang lebih dekat dan sesuai kebutuhan konsumen setempat.

Perusahaan juga menegaskan komitmennya menjadikan Negeri Tirai Bambu ini sebagai salah satu sumber inovasi sekaligus memperdalam lokalisasi produksi.

Pabrik Shanghai sepenuhnya dimiliki Toyota, sehingga berbeda dari pola produksi kendaraan Toyota sebelumnya di China yang banyak mengandalkan perusahaan patungan dengan mitra lokal.

Meski begitu, Lexus belum mengumumkan spesifikasi teknis SUV listrik tersebut. Informasi mengenai kapasitas baterai, jarak tempuh, tenaga motor listrik, hingga harga jualnya masih belum diungkapkan.

Lexus TZ dan ES menjadi model yang dibidik melantai di sana. Langkah ini memperlihatkan perubahan pendekatan Toyota dalam menghadapi industri kendaraan listrik global.

Jika sebelumnya pengembangan produk banyak berpusat di Jepang, kini China mulai memainkan peran strategis dalam menghadirkan teknologi dan kendaraan generasi berikutnya. [dpid/TH]