DAPURPACUID – Ada satu kesalahpahaman yang cukup sering muncul ketika membicarakan motor listrik. seolah-olah ‘pertarungan’ teknologi hanya ditentukan oleh kapasitas baterai dan jarak tempuh.
Padahal, bagi pengguna di Indonesia, persoalannya jauh lebih sederhana sekaligus rumit. Motor harus bisa dipakai setiap hari. Harus tahan menghadapi hujan, jalan yang tidak selalu mulus, kemacetan, panas, membawa penumpang, bahkan digunakan berjam-jam untuk bekerja.
Dan yang paling penting, ketika energi habis, pengguna tidak ingin kehilangan terlalu banyak waktu hanya untuk membuat kendaraan kembali berjalan.
Di titik inilah strategi VinFast melalui E-Motorcycle menjadi menarik. VinFast tidak hanya membawa tiga produk, yaitu Evo, Feliz II, dan Viper, ke pasar Indonesia.
Perusahaan juga mencoba mengubah cara konsumen memandang kepemilikan motor listrik melalui kombinasi teknologi kendaraan, fleksibilitas baterai, dan sistem pertukaran baterai.
Jadi, apa sebenarnya yang membuatnya berbeda? Jawabannya ternyata bukan hanya soal seberapa jauh motor tersebut bisa berjalan. Indonesia bukan tempat yang mudah bagi kendaraan roda dua.
Satu hari motor bisa melaju di jalan perkotaan yang padat. Hari berikutnya harus melewati jalan berlubang, menghadapi hujan deras, genangan, debu, panas, dan berbagai kondisi lain yang tidak selalu bersahabat.
Karena itu, keandalan justru menjadi salah satu aspek yang paling penting. VinFast menggunakan rangka baja berkekuatan tinggi pada Evo, Feliz II, dan Viper.

Proses pengelasan rangkanya juga dilakukan dengan sistem otomatis berbasis robot industri, sebuah pendekatan yang ditujukan untuk menjaga konsistensi proses manufaktur.
Di atas kertas, hal tersebut memang terdengar seperti urusan pabrik. Namun efeknya justru dirasakan ketika kendaraan digunakan berulang kali.
Rangka adalah fondasi. Jika bagian ini mampu mempertahankan kekakuan dan kestabilan, kendaraan memiliki dasar yang lebih baik untuk menghadapi penggunaan jangka panjang.
VinFast bahkan menyebut produknya telah melalui pengujian beban hingga 200 kilogram. Bagi pengguna biasa, angka tersebut mungkin sekadar spesifikasi.
Tetapi bagi masyarakat yang menggunakan motor untuk membawa penumpang atau barang, kapasitas dan kestabilan struktur memiliki arti yang jauh lebih praktis.
Ketika Hujan Bukan Lagi Musuh Utama
Ada satu hal yang sulit dihindari di Indonesia: hujan. Bagi kendaraan listrik, air selalu menjadi salah satu kekhawatiran. Apalagi ketika kendaraan harus digunakan dalam situasi nyata, bukan hanya di lingkungan pengujian.
VinFast menyematkan perlindungan IP67 pada motor listrik dan Motor Control Unit atau MCU. Dalam pengujian internal, komponen ini dirancang untuk menghadapi kondisi terendam hingga kedalaman tertentu selama periode tertentu.

Tetapi yang lebih menarik bukan angka sertifikasinya, melainkan konteks penggunaannya. Bagi pengendara, ketahanan terhadap air bukan fitur tambahan yang hanya digunakan sesekali. Tapi bisa menjadi bagian dari rutinitas.
Ketika hujan turun saat di perjalanan, kendaraan tetap harus digunakan. Ketika jalan tergenang, pengendara tidak memiliki pilihan untuk memindahkan kendaraan ke jalan kering.
Karena itulah, kemampuan menghadapi lingkungan jadi bagian penting dari kualitas motor listrik. VinFast juga menyebut kendaraan menjalani pengujian dinamis hingga ratusan ribu siklus dan pengujian terhadap korosi melalui salt spray test.
Tujuannya jelas, yaitu memastikan kendaraan tidak hanya bekerja dengan baik ketika baru, tetapi juga mampu menghadapi penggunaan yang berulang.
Jarak Tempuh Bukan Satu-Satunya Jawaban
Vinfast Evo, Feliz II, dan Viper dibekali dua baterai LFP berkapasitas 1,5 kWh per baterai. Pada kondisi standar, Evo diklaim mampu menempuh hingga 150 km, sedangkan Feliz II dan Viper hingga 145 km dengan dua baterai terisi penuh.
Performa dari baterai ketiga model tersebut dipadukan dengan motor BLDC Inhub berdaya maksimum hingga 5.200 watt pada spesifikasi Indonesia yang diumumkan VinFast.
Angka-angka tersebut tentu menarik. Namun justru ada pertanyaan yang lebih penting, yakni bagaimana jika baterainya habis?

Jawaban terhadap pertanyaan ini bisa menjadi pembeda antara motor listrik yang sekadar memiliki jarak tempuh jauh, dengan motor listrik yang benar-benar praktis digunakan.
Dan di sinilah konsep battery swapping VinFast memainkan perannya. Bayangkan seorang pengendara menggunakan motor untuk bekerja. Jika motor butuh waktu lama mengisi energi, maka waktu tersebut bisa berarti waktu produktif yang hilang.
Sistem tukar baterai mencoba menghilangkan persoalan itu. Pengguna tak harus selalu menunggu baterai terisi. Baterai yang sudah habis dapat ditukar dengan baterai yang tersedia di stasiun, sehingga kendaraan dapat kembali digunakan lebih cepat.
Konsep ini sebenarnya sederhana. Justru karena sederhana, potensinya besar, dan VinFast memberikan beberapa pilihan kepada konsumen. Baterai dapat dibeli bersama unit, disewa secara berkala, atau digunakan melalui sistem pertukaran baterai.
Di Indonesia, skema tersebut menjadi semakin relevan karena karakter penggunaan motor sangat beragam. Pengguna pribadi mungkin cukup mengisi baterai di rumah.
Tetapi pengguna dengan mobilitas tinggi bisa lebih membutuhkan jaringan pertukaran baterai. Dengan demikian, satu kendaraan dapat melayani pola penggunaan yang berbeda.
Baterai Bukan Lagi Barang Mati
Ada perubahan cara pandang yang menarik dalam strategi ini. Pada kendaraan konvensional, bahan bakar dibeli saat dibutuhkan. Pada kendaraan listrik, baterai jadi salah satu komponen paling penting sekaligus paling mahal.

VinFast mencoba mengubah baterai menjadi bagian dari layanan. Ketiga model dibekali baterai LFP yang dikenal memiliki karakteristik stabilitas dan ketahanan yang baik.
VinFast juga memberikan pilihan kepemilikan maupun sistem penyewaan baterai. Artinya, konsumen tak harus selalu melihat baterai sebagai komponen yang harus dibeli sekaligus sejak awal.
Ini penting karena harga pembelian sering jadi salah satu penghalang saat konsumen mempertimbangkan kendaraan listrik. Semakin fleksibel model kepemilikannya, makin banyak kemungkinan konsumen untuk menyesuaikan kendaraan dengan kondisi keuangannya.
Namun sekali lagi, teknologi hanya akan memiliki arti jika infrastrukturnya tersedia. Motor listrik dengan baterai bagus tidak akan banyak membantu jika pengguna kesulitan menemukan tempat menukar baterai.
Karena itu, keberadaan jaringan menjadi faktor yang sama pentingnya dengan produk. VinFast mengembangkan sistem tersebut bersama V-Green. Selain pertukaran baterai, pengguna juga tetap memiliki pilihan untuk mengisi daya di rumah maupun menggunakan fasilitas pengisian publik.
Pada Juli 2026, VinFast mengumumkan telah mengoperasikan 20 diler motor listrik di Indonesia. Perusahaan juga menyatakan pengembangan ekosistemnya mencakup jaringan pertukaran baterai dan fasilitas energi.
Perkembangan tersebut telah menunjukkan bahwa strategi VinFast mulai bergerak dari tahap memperkenalkan produk menuju membangun jaringan lebih luas.
Dan ini penting. Sebab konsumen tidak membeli motor listrik hanya sekali. Mereka membeli pengalaman menggunakannya selama bertahun-tahun. [dpid/TH]














