DAPURPACUID – Untuk menjadi instruktur safety riding ternyata tidak cukup hanya memiliki kemampuan dalam mengendalikan (manuver) sepeda motor dengan baik dan sempurna.
Mereka yang bertugas memberikan edukasi kepada masyarakat harus mempunyai kombinasi kemampuan teknis, pemahaman keselamatan, kemampuan membaca potensi bahaya, serta keterampilan menyampaikan materi secara tepat.
Standar tersebut salah satunya dapat dilihat melalui Astra Honda Safety Riding Instructors Competition (AHSRIC), yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-17.
Kompetisi ini menjadi salah satu ajang untuk menguji sekaligus mengevaluasi kompetensi para instruktur dan advisor safety riding Honda dari berbagai wilayah Indonesia.
Puncak gelaran AHSRIC 2026 berlangsung selama empat hari dan berakhir pada 7 Agustus 2026 lalu, di Astra Honda Motor Safety Riding Park, Deltamas, Cikarang.
Sebanyak 209 peserta terbaik tampil di tingkat nasional, setelah melewati rangkaian seleksi secara regional yang berlangsung sejak Februari hingga Mei 2026.
Menariknya, peserta tak hanya berhadapan dengan lintasan dan rintangan. Kemampuan memahami situasi lalu lintas serta menyampaikan edukasi keselamatan juga menjadi bagian dari kompetisi.
Dengan kata lain, seorang instruktur safety riding juga dituntut mampu menjadi pengendara yang terampil sekaligus mentor yang dapat dipercaya.
Lantas, bagaimana sebenarnya ketatnya standar ujian edukasi keselamatan yang diterapkan oleh pabrikan berlogo sayap mengepak ini pada ajang AHSRIC?
Kemampuan Berkendara Diuji Secara Detail
Dari sisi keterampilan, peserta menghadapi beragam modul yang menuntut kontrol motor secara presisi. Kategori yang dipertandingkan mencakup kelas skutik, sport, hingga big bike.
Salah satu materi yang cukup menguji kemampuan yaitu Narrow Plank. Dalam modul ini, peserta harus mempertahankan keseimbangan ketika melaju di atas papan yang sempit pada kecepatan rendah.
Tantangannya bukan sekadar menjaga sepeda motor tetap tegak di lintasan, tapi juga mempertahankan kontrol kendaraan dan kecepatan secara konsisten.
Kemampuan pengereman juga jadi aspek penting. Melalui materi Braking, peserta harus mampu menghentikan sepeda motor dengan presisi sesuai area yang telah ditentukan.
Teknik pengereman yang tepat menjadi salah satu kemampuan fundamental karena kondisi darurat di jalan sering kali menuntut pengendara mengambil keputusan dalam waktu singkat.
Lalu Slalom Course, lintasan berkelok yang mengharuskan peserta melewati sejumlah cone secara teratur. Materi ini menguji kombinasi handling, keseimbangan, konsentrasi, dan ketepatan pengendalian motor.

Ketiga modul tersebut pada dasarnya memiliki keterkaitan dengan kondisi yang dapat ditemui oleh para pengendara sepeda motor sehari-hari.
Kemampuan menjaga keseimbangan, melakukan pengereman dengan tepat, serta mengendalikan arah motor menjadi bagian dari keterampilan dasar untuk menghadapi situasi lalu lintas yang dinamis.
Tak Cukup Hanya Jago Riding
Kompetensi instruktur safety riding tidak berhenti saat mesin dimatikan. Mereka juga harus mampu menjelaskan risiko berkendara dan menyampaikan solusi keselamatan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Karena itu, AHSRIC turut menguji aspek pengetahuan, coaching, serta kemampuan memprediksi potensi bahaya. Salah satu pendekatan yang digunakan yakni Danger Prediction, lewat fasilitas Honda Riding Trainer (HRT).
Materi tersebut membuat peserta tak hanya berpikir mengenai apa yang sedang terjadi di depan mata, tapi juga memperkirakan kemungkinan risiko yang dapat muncul.
Kemampuan semacam ini penting bagi seorang instruktur, karena mereka nantinya menjadi pihak yang memberikan pemahaman safety riding kepada masyarakat dan komunitas.
Konsep inilah yang membuat AHSRIC memiliki fungsi lebih luas dibanding kompetisi pada umumnya. Pemenangnya memang mendapat pengakuan atas kemampuan yang dimiliki.

Namun proses kompetisinya juga menjadi sarana untuk meningkatkan standar instruktur secara berkelanjutan. Pada akhirnya, kualitas seorang instruktur akan berpengaruh terhadap kualitas edukasi yang diterima masyarakat.
Teknik berkendara yang benar harus disampaikan dengan metode yang tepat pula agar dapat diterapkan oleh pengendara dalam kondisi nyata.
Membawa Semangat #Cari_Aman
Kompetisi ini juga menjadi bagian dari upaya Honda dalam memperkuat budaya keselamatan berkendara, melalui kampanye yang terus digaungkan yaitu #Cari_Aman.
Instruktur dan advisor memiliki peran penting karena mereka berhadapan langsung dengan diler, komunitas, maupun masyarakat yang butuh pemahaman mengenai berkendara dengan aman.
Dengan standar pengujian kemampuan fisik, pengetahuan, prediksi bahaya, dan komunikasi, instruktur diharapkan tak hanya menjadi contoh dalam hal teknik berkendara, tapi juga mampu menjadi sumber edukasi yang kredibel.
AHSRIC 2026 pada akhirnya memperlihatkan bahwa kemampuan safety riding memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar mampu mengendalikan sepeda motor.
Terdapat proses latihan, pengujian, evaluasi, hingga kemampuan mengajarkan kembali pengetahuan tersebut kepada orang lain kelak. [dpid/TH]















