DAPURPACUID – Kekhawatiran terhadap keamanan data kendaraan modern membuat mobil listrik BYD mendapat pembatasan akses di Pangkalan Udara Kadena milik militer Amerika Serikat di Okinawa, Jepang.
Kebijakan tersebut menjadi sorotan karena berkaitan dengan potensi risiko teknologi kendaraan terhadap keamanan pada instalasi militer.
Mengutip laporan media Asia, termasuk kantor berita Yonhap, kendaraan BYD tidak lagi diizinkan memasuki kawasan pangkalan tersebut mulai Senin pekan lalu.
Larangan tersebut berlaku untuk berbagai jenis kendaraan, bukan hanya mobil pribadi, tetapi juga taksi, kendaraan pengiriman barang, hingga mobil milik kontraktor.
Letnan Kolonel Alli Stormer dari Pangkalan Udara Kadena menegaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada pertimbangan keamanan.
“Kendaraan-kendaraan ini menghadirkan risiko yang tidak dapat diterima dan tidak dapat dimitigasi terhadap personel serta misi kami,” ujarnya tanpa merinci secara spesifik yang menjadi dasar kebijakan tersebut.

Namun, perhatian mengarah pada kamera, sensor, dan perangkat elektronik yang terpasang pada kendaraan-kendaraan modern, termasuk lini model BYD.
Teknologi ini berpotensi merekam lingkungan sekitar, termasuk area yang memiliki informasi sensitif, sehingga memunculkan kekhawatiran mengenai pengumpulan dan pengiriman data.
Meski demikian, belum ada bukti yang dipublikasikan dalam laporan tersebut bahwa kendaraan BYD benar-benar digunakan untuk kegiatan spionase.
Kekhawatiran terhadap Teknologi China
Pembatasan di Pangkalan Udara Kadena muncul di tengah meningkatnya perhatian pemerintah Amerika terhadap perusahaan teknologi asal China.
BYD sebelumnya juga tercantum dalam dokumen Pentagon yang mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang diduga mendukung militer China. Daftar tersebut turut memuat nama Nio, Alibaba, dan Baidu.
Di pasar AS, mobil buatan China menghadapi hambatan berupa tarif tinggi serta pembatasan terkait perangkat lunak dan teknologi kendaraan. Sejumlah anggota parlemen bahkan mendorong aturan lebih ketat untuk membatasi masuknya kendaraan China ke pasar domestik.

Kekhawatiran serupa bukan hanya muncul di Amerika. China pernah membatasi akses kendaraan Tesla ke sejumlah lokasi pemerintahan pada 2021 karena persoalan keamanan data.
Pembatasan tersebut kemudian dicabut pada 2024, setelah lini model Tesla buatan China memenuhi persyaratan keamanan data yang berlaku.
BYD Masih Berupaya Memperluas Pasar Jepang
Di tengah ekspansi globalnya, BYD masih menghadapi tantangan memperbesar pangsa pasar di Jepang. Dominasi produsen domestik membuat penetrasi merek relatif terbatas, dengan pangsa pasar yang dilaporkan hanya sekitar 0,1 persen.
Untuk memperkuat posisinya, BYD memperkenalkan Racco, mobil listrik berukuran mungil yang masuk kategori kei car, segmen kendaraan kompak yang populer di Jepang.
Kasus di Pangkalan Udara Kadena menunjukkan, perkembangan kendaraan listrik kini tidak hanya berkaitan dengan persaingan harga, jarak tempuh, dan teknologi baterai.
Aspek keamanan data juga semakin menjadi pertimbangan, khususnya ketika kendaraan dengan beragam sensor beroperasi di kawasan strategis. [dpid/TH]















