DAPURPACUID – Melawan arah demi cepat sampai bukanlah hal sebuah kecerdikan, melainkan keputusan berisiko yang bisa berujung kecelakaan fatal di jalan raya.
Di tengah padatnya mobilitas perkotaan, masih banyak pengendara motor yang memilih jalan pintas dengan melawan arus lalu lintas. Alasan klasiknya sederhana: ingin menghemat waktu.
Namun di balik itu, tersimpan ancaman nyata yang kerap berujung pada kecelakaan serius. Kebiasaan ini bukan hanya membahayakan diri sendiri, melainkan juga pengguna jalan lain.
Sudah banyak kejadian kecelakaan yang diakibatkan dari berkendara melawan arah, yang bahkan tidak sedikit berujung kematian. Namun tetap saja, kondisi itu ‘tidak sepi’ pada kenyataannya.
Praktik melawan arah masih sering ditemui di berbagai ruas jalan, baik saat kondisi lengang maupun macet. Banyak kasus terjadi bermula dari pelanggaran ini, ketika pengendara datang dari arah tak semestinya dan sulit diantisipasi oleh pengguna jalan lain.
Tabrakan frontal jadi risiko paling umum, terutama bagi pengendara motor yang minim perlindungan. Dampaknya beragam, mulai dari luka ringan, cedera berat, hingga kehilangan nyawa. Ironisnya, risiko tersebut bisa muncul hanya dalam hitungan detik.

Masih ada anggapan melawan arah adalah hal lumrah jika jarak tujuan dekat. Padahal, satu keputusan salah di jalan dapat membawa konsekuensi jangka panjang, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial.
Oleh karena itu, penting menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama melalui kesadaran berkendara #Cari_aman, bukan hanya sekadar mengejar kecepatan dan waktu.
Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, Agus Sani memaparkan, banyak pengendara merasa melawan arah adalah solusi cepat, padahal risikonya sangat besar.
“Keselamatan tidak bisa ditawar hanya demi menghemat waktu beberapa menit. Kami mengimbau pengendara patuh pada aturan lalu lintas yang berlaku,” imbuh Agus dalam siaran resmi, Minggu (11/1).
Sebagai bagian dari edukasi keselamatan berkendara #Cari_aman, berikut dampak serius dari kebiasaan melawan arah yang perlu menjadi perhatian bersama, yaitu:
– Risiko tabrakan frontal sangat tinggi, karena kendaraan datang dari arah tak terduga.
– Cedera berat hingga fatal, terutama bagi pengendara motor.
– Memicu kecelakaan beruntun, akibat pengereman mendadak atau manuver spontan pengguna jalan lain.
– Kerugian materi, mulai dari perbaikan kendaraan, biaya medis, hingga hilangnya produktivitas.
– Dampak psikologis dan sosial, baik bagi korban, keluarga, maupun saksi kejadian.

Selain berbahaya, melawan arah juga memiliki konsekuensi hukum yang tergolong tegas. Tindakan ini diatur dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Dalam undang-undang tersebut pihak pelanggar dapat dikenakan denda maksimal Rp500.000, atau pidana kurungan hingga dua bulan yang tertuang pada Pasal 287 Ayat 1.
Jika pelanggaran dilakukan karena kelalaian dan mengakibatkan kecelakaan berat, sanksinya bisa meningkat jadi pidana penjara hingga lima tahun dan denda maksimal Rp10.000.000 sesuai Pasal 310 Ayat 4.
Lima Tips Aman Terhindar dari Lawan Arah
Untuk mencegah risiko tersebut, para pengendara sepeda motor perlu memahami langkah konkret yang dapat diterapkan dalam aktivitas berkendara sehari-hari.
Edukasi ini menjadi bagian penting dalam menanamkan budaya #Cari_aman di jalan raya. Berikut lima tips berkendara aman agar terhindar dari kebiasaan lawan arah:

– Rencanakan perjalanan dengan waktu cukup, agar tidak terburu-buru.
– Patuhi rambu dan aturan lalu lintas, demi keselamatan bersama.
– Kendalikan emosi dan bersabar, terutama saat macet atau harus memutar.
– Gunakan perlengkapan berkendara standar, untuk meminimalkan risiko cedera.
– Hormati sesama pengguna jalan, tanpa memaksakan kehendak.
Lebih dari sekadar keterampilan teknis, berkendara aman adalah soal sikap dan etika. Jalan raya jadi ruang bersama yang menuntut kesadaran kolektif, bukan arena mencari keuntungan pribadi.
Melalui program Safety Riding Promotion (SRP), Main Dealer sepeda motor Honda Jakarta–Tangerang ini terus mengajak masyarakat menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama.
Agus mengimbau tujuan utama berkendara bukanlah kecepatan, melainkan keselamatan. Dengan mengedepankan #Cari_aman, risiko kecelakaan dapat ditekan dan kualitas berlalu lintas dapat ditingkatkan.
“Dari berbagai kejadian, terlihat jelas lawan arah sering berujung kecelakaan fatal. Saat satu orang melanggar, dampaknya bisa merugikan banyak pihak,” tutup Agus.
Pesan yang perlu diingat sederhana: jangan pilih jalan pintas yang berisiko. Lebih baik memutar sedikit daripada mempertaruhkan nyawa. [dpid/TH]

