Tertekan Mobil Tiongkok, Mitsubishi Siapkan Strategi Tak Biasa

DAPURPACUID – Mitsubishi Motors mulai mengarahkan lebih banyak sumber daya pengembangan produk ke pasar otomotif maju, termasuk ke Amerika Serikat, Jepang, dan Australia.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan menghadapi persaingan kendaraan listrik asal Tiongkok yang semakin ketat di kawasan Asia Tenggara.

Menurut laporan Nikkei Asia, Mitsubishi berupaya mengurangi ketergantungan pada pasar Asia Tenggara dengan memperluas peluang di negara-negara maju.

Meski demikian, ekspansi ke AS bukan perkara mudah karena pangsa pasar Mitsubishi di negara tersebut relatif kecil dan jaringan dilernya masih terbatas.

Amerika sendiri bukan pasar baru bagi Mitsubishi. Penjualannya di negara itu pernah mencapai puncaknya pada 2002, ketika model seperti Eclipse menjadi salah satu andalan.

Namun, Mitsubishi kemudian cukup kesulitan mempertahankan momentum di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat. Terutama dengan derasnya kendaraan listrik.

Melalui strategi Momentum 2030, Mitsubishi berencana memperkuat daya saingnya di Amerika, termasuk memperluas jaringan dan menambah pilihan kendaraan. Targetnya, jajaran produk berkembang dari empat menjadi enam model pada 2027.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah menghadirkan SUV Outlander dengan karakter lebih tangguh untuk konsumen yang menyukai aktivitas petualangan.

Segmen ini juga diisi sejumlah pesaing, termasuk Honda Passport TrailSport. Mitsubishi turut memanfaatkan kerja sama dengan Nissan guna mengembangkan produk baru.

Salah satunya Eclipse Sportback, mobil listrik yang disebut berbasis Nissan Leaf. Perusahaan juga menjajaki kehadiran pikap menengah hasil kolaborasi dengan Nissan untuk bersaing di segmen yang dihuni Toyota Tacoma dan Ford Ranger.

Strategi ini menunjukkan bahwa Mitsubishi tak hanya ingin menambah jumlah model, tapi juga menghadirkan kendaraan yang lebih sesuai dengan karakter konsumen Amerika.

Penjualan Turun, Model Inti Menguat

Tantangan Mitsubishi di Amerika masih terlihat dari kinerja penjualannya. Sepanjang Januari hingga September 2026, perusahaan membukukan penjualan 68.554 unit, turun 6,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, penurunan ini disebut berkaitan dengan penghentian penjualan Mirage. Di luar model tersebut, penjualan kendaraan Mitsubishi lainnya justru meningkat 14,3 persen.

Di sisi lain, Asia Tenggara tetap menjadi kawasan penting karena menyumbang hampir sepertiga penjualan global Mitsubishi. Artinya, perusahaan tidak meninggalkan pasar regional, melainkan mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk mengembangkan bisnis di pasar maju.

Mitsubishi menargetkan penjualan global mencapai 900.000 unit di tahun fiskal yang berakhir Maret 2030. Angka ini sekitar 13 persen lebih tinggi dibanding capaian tahun fiskal 2025.

Keberhasilan strategi ini akan bergantung pada kemampuan Mitsubishi menghadirkan produk yang kompetitif, memperluas jaringan penjualan, dan membangun kembali daya tarik merek di Amerika.

Di tengah tekanan produsen Tiongkok di Asia Tenggara, ekspansi ini menjadi upaya Mitsubishi menjaga pertumbuhan bisnis tanpa kehilangan pijakan di pasar tradisionalnya. [dpid/TH]