Ekspor Mobil CBU Made in Indonesia ke Australia Berpotensi Meningkat


JAKARTA (DP) – Ekspor mobil utuh atau completely built up (CBU) dari Indonesia ke Australia berpeluang tumbuh pasca perjanjian perdagangan bebas (FTA) antara Indonesia dengan Australia melalui Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) diteken.

Apalagi Australia adalah negara yang tidak memiliki pabrikan mobil. Untuk memenuhi kebutuhan pasarnya, mereka harus impor.

“Pasar mobil di Australia dengan Indonesia sejatinya banyak kemiripan, salah satunya adalah minat pasar Australia atas mobil sedan kecil, hatchback dan mobil dengan penggerak empat roda atau 4×4 cukup besar,” kata Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia, Mukiat Sutikno di Jakarta, Kamis (16/5).

Mukiat menilai, ada spesifikasi khusus yang diperlukan agar bisa memenuhi pasar ekspor Australia. Pasalnya, sebagai negara empat musim, Australia membutuhkan mobil jenis baja galvanis yang lebih durable.

“Raw material atas jenis mobil itu harus siap, ini tantangannya,” papar dia.

Sedangkan Direktur Pemasaran dan Layanan Purnajual PT Honda Prospect Motor (HPM), Jonfis Fandy, mengatakan perusahaannya terus mengerek penjualan ekspornya. Hanya untuk negara Australia, Honda belum mempelajari pasar baru itu.

“Kami masih fokus mengekspor Low Cost Green Car (LCGC). Hanya saja, di Australia pasar mobil ini belum banyak, mudah-mudahan pemerintah bisa bimbing ini terus karena LCGC masing-masing brand volumenya besar,” ujar Jonfis.

Jonfis menambahkan, ekspor Honda ke Australia baru dari Thailand dan belum ada rencana penambahan jumlah negara untuk jangka pendek. Apalagi, Australia punya banyak peraturan, seperti New Car Assessment Program for Southeast Asian Countries (NCAP).

“Ini bukan berarti kami menarik diri, Honda akan melihat semua peluang,” tuturnya. [dp/PNB]