Toyota Punya Strategi Baru, Mesin Konvensional Jadi Ladang Cuan

DAPURPACUID – Toyota Motor Corporation telah menyiapkan strategi bisnis baru dengan memperluas penjualan mesin dan sistem teknologi hybrid kepada pabrikan otomotif lain.

Langkah ini ditargetkan menghasilkan pendapatan tahunan sekitar 1,5 miliar euro (US$1,7 miliar) pada 2032 mendatang. Dilansir dari Automotive News, pasokan mesin dan teknologi hybrid ini diprediksi dimulai pada 2027.

Meski TMC belum mengumumkan calon pembelinya, namun sejumlah mitra Toyota seperti Subaru, Mazda, Suzuki, dan Daihatsu berpeluang menjadi target kandidatnya.

Strategi ini membuka kesempatan bagi Toyota memperluas sumber pendapatan di luar penjualan unit, sekaligus mempertahankan relevansi mesin pembakaran internal di tengah tuntutan penurunan emisi.

Saat ini, Toyota tengah mengembangkan lini mesin empat silinder segaris dengan kapasitas 1,5 liter naturally aspirated, 1,5 liter turbo, dan 2,0 liter turbo.

Mesin 1,5 liter disiapkan guna mendukung sistem hybrid, sedangkan versi 2,0 liter turbo dirancang agar dapat digunakan sebagai penggerak konvensional maupun dipadukan dengan elektrifikasi.

Dimensi mesin yang lebih ringkas jadi salah satu keunggulan yang ditawarkan. Rancangan ini memungkinkan produsen menyesuaikan mesin di beragam platform kendaraan.

Termasuk arsitektur yang awalnya dikembangkan untuk mobil listrik. Pendekatan ini memberi pilihan bagi pabrikan yang ingin memenuhi regulasi emisi, tanpa sepenuhnya meninggalkan mesin bensin.

Subaru dan Mazda Punya Strategi Sendiri

Meski peluang pasarnya besar, Toyota tetap menghadapi tantangan untuk menarik minat pabrikan lain. Subaru, misalnya, memiliki identitas kuat melalui mesin boxer dan sistem penggerak semua roda.

Pengembangan mesin boxer generasi terbaru juga menjadi bagian penting dari strategi teknologinya. Mazda pun tengah mengembangkan mesin 2,5 liter Skyactiv-Z dan sistem hybrid sendiri.

Teknologi tersebut direncanakan bakal dibenamkan pada CX-5 generasi berikutnya. Perusahaan ini juga tengah mengembangkan teknologi mesin rotari, sebuah ciri khas yang telah melekat pada merek melalui model-model seperti RX-7.

Dalam konteks ini, proyek-proyek tersebut dapat semakin mempersulit ambisi Toyota dalam penyediaan mesin, sehingga kebutuhan tersebut belum tentu jadi prioritas.

Kondisi ini menunjukkan, keberhasilan bisnis pasokan mesin tak hanya bergantung pada teknologi, tapi juga kesesuaian dengan karakter produk dan strategi masing-masing produsen.

Toyota bersama mitra aliansinya diperkirakan memiliki skala penjualan sekitar 16 juta kendaraan per tahun. Jumlah ini memang tidak berarti seluruh kendaraan tersebut akan menggunakan mesin baru dari Toyota.

Namun hal ini menunjukkan potensi skala besar dari bisnis penyediaan mesin yang mereka jalankan. Besarnya jaringan ini memberi potensi pasar bagi komponen dan teknologi yang dikembangkan bersama.

Selain mesin, Toyota juga berencana memperluas penggunaan platform perangkat lunak Arene dari dua menjadi 50 model kendaraan, dengan target menjangkau 10 juta kendaraan per tahun pada 2030.

Jika terealisasi, strategi tersebut dapat memperkuat posisi Toyota sebagai pemasok teknologi otomotif, dan bukan sekadar produsen mobil.

Namun, pencapaian target pendapatan pada 2032 tetap bergantung pada minat pelanggan, kesiapan produksi, dan perkembangan regulasi industri otomotif global. [dpid/TH]